periskop.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan secara eksplisit menyebut bahwa bangsa Iran adalah bangsa Arya. 

“Juga saya ingin menambahkan bahwa bangsa Iran ini sebenarnya bangsa Arya susah juga ditaklukkan," ujar Luhut dalam agenda sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara Jumat (13/3)

Pernyataan Luhut tentang Iran sebagai bangsa Arya hadir di tengah paparan tentang bagaimana konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berubah menjadi perang teknologi, dengan penggunaan drone murah dan strategi mobile launch yang cerdik oleh Iran, serta upaya menghancurkan fasilitas pertahanan mereka.

“Inilah yang menjadi bagian dari perang ini teknologi AI drone. Jadi ini adalah menurut saya perang teknologi dan juga spirit untuk melawan," tambahnya

Luhut kemudian menjelaskan meskipun jumlah serangan Iran menurun, konflik ini tetap memiliki implikasi ekonomi global, terutama pada harga minyak mentah dan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun menurutnya, konflik ini tidak akan menyebabkan penutupan rute energi secara permanen, karena kepentingan ekonomi Iran sendiri akan mendorong kembalinya aktivitas di kawasan tersebut.

“Jadi Hormuz itu tidak mungkin akan ditutup seterusnya. Oleh karena itu kami datang dengan berbagai skenario dan kita lihat perkembangan dalam 1–2 minggu ke depan,” jelas Luhut kepada Presiden dan jajaran kabinet.

Ia juga menekankan Indonesia tidak perlu panik atas dampak global tersebut. Ia menegaskan pemerintah telah mempersiapkan upaya mitigasi melalui kebijakan fiskal, stabilisasi rupiah bersama Bank Indonesia, serta diversifikasi energi domestik agar kebutuhan nasional tetap terpenuhi tanpa gejolak berarti.

“Yang jelas-jelas ke depan untuk kita adalah, kita harus adjust dengan kebijakan atau dengan harga minyak global. Tapi kita mesti ceritakan ke masyarakat kita bahwa kita pasti berhasil mengendalikan itu,” ujarnya.

Sebagai penutup, dirinya menegaskan Indonesia tetap optimis dan siap menjalankan strategi tangguh menghadapi berbagai tantangan dunia: dari stabilitas energi, pengendalian inflasi, hingga kesiapan nasional menghadapi mudik Lebaran dan dinamika ekonomi domestik.

“Kita harus tetap optimis karena strategi dan koordinasi kita sudah kuat,” tutup Luhut,