periskop.id - PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan kinerja tahun buku 2025 yang ebrakhir pada 31 Desember 2025. Pada periode tersebut, kinerja perseroan mengalami penurunan, baik dari sisi pendapatan maupun laba.

Pada akhir 2025, perseroan membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp32,77 triliun. Raihan itu turun 3,34% dibandingkan laba pada 2024 sebesar Rp33,9 triliun.

"Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya," ujar Presiden Direktur PT Astra International Tbk Djony Bunarto Tjondro dalam keterangan resmi, Jumat (27/2).

Penurunan laba turut menekan laba per saham menjadi Rp810 dari Rp837 per saham pada tahun sebelumnya.

Dari sisi pendapatan, Astra membukukan Rp323,39 triliun pada 2025, terkoreksi tipis 1,54% dibandingkan Rp328,48 triliun pada 2024. Secara sektoral, segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi menjadi kontributor terbesar dengan Rp131,3 triliun, disusul otomotif dan mobilitas Rp125,65 triliun.

Jasa keuangan menyumbang Rp33,44 triliun, agribisnis Rp28,65 triliun, infrastruktur Rp3,16 triliun, teknologi informasi Rp2,99 triliun, serta properti Rp1,13 triliun. Setelah eliminasi Rp2,95 triliun, pendapatan konsolidasian tercatat Rp323,39 triliun.

Pada periode yang sama, perseroan membukukan beban pokok pendapatan sebesar Rp251,95 triliun, lebih rendah dibandingkan beban pokok pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp255,42 triliun. Alhasil, laba bruto turun menjadi Rp71,44 triliun dari Rp73,06 triliun yang dicatatkan pada 2024.

Beban penjualan pada 2025 tercatat sebesar Rp11,74 miliar. Kemudian beban umum dan administrasi pada periode yang sama tercatat sebesar Rp21,04 miliar.

Pada 2025, perseroan membukukan penghasilan bunga senilai Rp2,37 triliun, biaya keuangan Rp3,72 triliun, dan kerugian selisih kurs senilai Rp70 miliar. Bersamaan dengan itu, penghasilan lain-lain tercatat sebesar Rp1,15 triliun dan bagian atas hasil bersih ventura bersama dan entitas asosiasi tercatat sebesar Rp9,62 triliun.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan, perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp49,21 triliun, turun dibanding laba periode berjalan di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 43,27 triliun. Dari angka tersebut, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yakni sebesar Rp32,77 triliun.

Total aset perseroan per akhir 2025 meningkat menjadi Rp507,36 triliun dari Rp471,44 triliun pada akhir 2024. Liabilitas naik ke Rp216,55 triliun dari Rp199,44 triliun, sementara ekuitas tumbuh menjadi Rp290,81 triliun dari Rp272 triliun. Saldo kas dan setara kas pun menguat ke Rp52,62 triliun, naik dari Rp48,43 triliun pada akhir 2024.

Ke depan, Djony memperkirakan sentimen konsumen akan berangsur membaik meski sejumlah lini usaha masih menghadapi tantangan.

"Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan," tutup Djony.