periskop.id - Dalam dunia pasar modal, kepemilikan saham publik atau free float menjadi salah satu indikator fundamental yang krusial bagi investor. Semakin besar porsi saham yang dimiliki publik, semakin likuid saham tersebut, dan semakin terbuka pula peluang bagi investor ritel untuk ikut ambil bagian dalam perusahaan.

Beberapa emiten bahkan menorehkan angka free float yang nyaris sempurna, membuka akses penuh bagi masyarakat untuk berinvestasi. Mengutip Stockbit, Kamis (26/1) di posisi teratas, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) menjadi sorotan utama dengan free float mencapai 100%.

Perusahaan yang dulu berada di bawah kendali Grup Rajawali milik konglomerat Peter Sondakh, kini sepenuhnya dimiliki publik. Transformasi ini menandai era baru bagi TAXI, di mana setiap saham bisa diperdagangkan secara bebas di pasar, tanpa adanya pengendalian mayoritas.

Selanjutnya di posisi kedua, menyusul PT HK Metals Utama Tbk (HKMU). Emiten yang bergerak di sektor manufaktur bahan bangunan, ini juga mencatatkan free float 100%. Kepemilikan publik mutlak ini menjadikan saham HKMU sangat likuid dan mudah diakses investor.

PT Bintraco Dharma Tbk (CARS) menempati posisi berikutnya dengan free float 94,51%. Dikenal sebagai diler resmi Toyota untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta (Nasmoco), CARS menunjukkan dominasi kepemilikan publik yang tinggi. Hal ini memberikan ruang bagi investor ritel untuk memiliki bagian signifikan sekaligus meningkatkan aktivitas perdagangan saham di bursa.

Tidak jauh berbeda, PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) mencatatkan free float 94,05%. Sebagai perusahaan sekuritas, likuiditas tinggi ini memperkuat daya tariknya di kalangan investor yang mengincar saham mudah diperdagangkan namun tetap stabil.

Di sektor teknologi, PT WIR Asia Tbk (WIRG) menunjukkan lonjakan signifikan dengan free float 93,89% setelah IPO. Perusahaan yang bergerak di bidang Metaverse ini menjadi magnet bagi investor yang ingin ikut serta dalam pertumbuhan teknologi digital yang sedang naik daun, sambil menikmati likuiditas saham yang tinggi.

Sementara itu, PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) dan emiten ELTY masing-masing memiliki free float 84,98% dan 84,83%. Meski lebih rendah dibandingkan perusahaan di puncak daftar, angka ini tetap menunjukkan dominasi kepemilikan publik yang besar dan mempermudah transaksi di pasar.

Secara keseluruhan, tingginya porsi free float pada sejumlah emiten ini mencerminkan keterbukaan perusahaan terhadap investor dan likuiditas yang tinggi. Bagi pelaku pasar, data free float bukan sekadar angka ini adalah indikator penting dalam menilai peluang investasi, risiko pergerakan saham, dan potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Dengan saham yang mudah diperjualbelikan, investor ritel memiliki kesempatan lebih besar untuk ikut merasakan dinamika dan keuntungan di pasar modal Indonesia.