periskop.id - Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ia menyebut KSSK pun terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik guna mengantisipasi berbagai risiko yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.
Purbaya menjelaskan, dinamika penyelesaian konflik Timur Tengah hingga April 2026 masih menjadi faktor utama yang memicu gejolak pasar keuangan global, terutama terhadap kenaikan harga energi. Meski demikian, ia menegaskan kondisi sektor keuangan domestik hingga kini tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali.
"Berdasarkan perkembangan tersebut, KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward-looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi, baik antar lembaga anggota KSSK maupun dengan kementerian atau lembaga lain," ucap Purbaya dalam konferemsi pers KSSK II Tahun 2026, Jakarta, Kamis (7/5).
Di sisi domestik, Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat cukup kuat, yakni sebesar 5,61%. Namun, pemerintah tetap berhati-hati terhadap berbagai tantangan yang berpotensi muncul pada kuartal berikutnya.
"Global masih penuh ketidakpastian, kita akan waspadai itu terus. Untuk ekonomi domestik, kita lihat triwulan pertama pertumbuhan cukup bagus, 5,61% ya. Bagus ya? Tapi kita akan melihat seperti apa di triwulan kedua tahun ini," terangnya.
Pemerintah, lanjut dia, juga tengah menyiapkan tambahan stimulus ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan pada triwulan II 2026. Selain itu, upaya memperbaiki iklim investasi terus diperkuat melalui pembentukan Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (P3M-PPE) oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Kita waspadai semua kendala yang mungkin timbul dan kita lihat semua faktor ekonomi makro yang ada. Dan kelihatannya pemerintah juga akan masih memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian di triwulan kedua tahun 2026 ini," tuturnya.
"Jadi, untuk memperbaiki iklim investasi, Presiden Prabowo Subianto telah membentuk Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi atau Satgas P3M-PPE dalam rangka mempercepat program strategis, memperkuat investasi, dan mendorong penciptaan lapangan kerja," tambah Purbaya.
Satgas tersebut, kata Purbaya, juga menghadirkan layanan penanganan kanal debottlenecking 24 jam untuk menyelesaikan hambatan perizinan dan investasi secara cepat, transparan, dan akuntabel. Salah satunya yang tadi siang kita sidang di Kementerian Keuangan.
Hingga Mei 2024, Satgas telah menggelar delapan sidang menyelesaikan berbagai isu strategis lintas sektor termasuk suplai LNG Abadi Masela, kawasan ekonomi khusus, sertifikasi SNI, perizinan apotek, biofuel, serta hambatan mutasi dan tata kelola usaha.
Tinggalkan Komentar
Komentar