iklan periskop
Saham

RANS FC Dilepas Sebelum IPO, Ini Alasannya

RANS FC dilepas karena bisnis sepak bola dinilai tak menguntungkan dan minim prospek. Penutupan itu justru mendorong margin laba kotor RANS naik ke 43%.

1 bulan yang lalu · 2 mnt baca
IPO RANS
Direktur Utama PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) Nagita Slavina (kedua dari kiri), Founder RANS Raffi Ahmad (kiri), Komisaris Utama RANS Darwin Cyril Noerhadi, dan Managing Director Emtek Group Sutanto Hartono (kanan) menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/7/2026). ANTARA/Rizka Khaerunnisa
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - PT RANS Entertainment Indonesia Tbk melepas RANS FC sebagai bagian dari strategi penataan bisnis menjelang penawaran umum perdana saham (IPO). Lini sepak bola itu ditutup karena dinilai tidak menguntungkan dan minim prospek ke depan.

Direktur Emtek Group sekaligus CEO Emtek Media (SCMA) & Vidio Sutanto Hartono, selaku salah satu pemegang saham RANS, memaparkan keputusan tersebut merupakan bagian dari pembersihan bisnis yang dianggap tidak layak dipertahankan. Menurut Sutanto, bisnis dengan prospek lemah lebih baik ditutup agar perusahaan bisa tampil lebih sehat saat go public.

"Ada beberapa bisnis yang tidak terlalu menguntungkan atau bahkan tidak punya prospek, itu mendingan ditutup dan ini sudah dilakukan. Salah satu contohnya, Pak Raffi dulu hobinya main sepak bola, jadi dia sangat ngotot pengin punya football club, RANS FC," kata Sutanto dalam konferensi pers pencatatan perdana saham RANS di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/7).

Keputusan menutup RANS FC bukan diambil begitu saja. Pelepasan itu diproses melalui evaluasi internal yang akhirnya menyimpulkan sepak bola bukan ladang bisnis yang tepat bagi RANS.

"Setelah dievaluasi, keputusannya adalah oke untuk RANS sebaiknya tidak masuk di bisnis sepak bola," imbuh Sutanto.

Sutanto mengakui pelepasan RANS FC sempat menekan pendapatan perusahaan. Namun, langkah itu justru berdampak positif bagi kualitas laba RANS secara keseluruhan.

"Itu juga menimbulkan semacam income sesaat di tahun 2024, dengan adanya reversal karena dengan kita tutup akumulasi loss yang terjadi menjadikan seakan-akan adalah adanya income," ujar Sutanto.

Ia menegaskan, angka 2024 itu perlu dikecualikan agar perbandingan kinerja operasional antara 2024 dan 2025 bisa dibaca secara lebih akurat.

Perbaikan kinerja itu tecermin dari pergerakan margin laba kotor RANS, yang naik dari sekitar 38% menjadi 43%. Sutanto menyebut kenaikan itu mencerminkan tren profitabilitas yang semakin solid.

"Kalau kita take out angka itu di 2024, sebenarnya angka 2025 ini secara profitabilitas lebih bagus operasionalnya dibandingkan 2024," pungkas Sutanto.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Sutanto Hartono, RANS, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Emtek Group dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.