Periskop.id - Dunia saat ini dinilai tengah menghadapi ancaman serius dari para miliarder teknologi yang semakin agresif dalam menimbun pengaruh budaya dan kekuasaan ekonomi. 

Mordecai Kurz, seorang ekonom terkemuka dari Stanford University, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sedang mengalami versi ekstrem dari sebuah pola sejarah yang berbahaya, yakni konsentrasi kekuatan teknologi di tangan segelintir orang yang pada akhirnya mengikis tatanan demokrasi.

Dalam buku barunya yang berjudul Private Power and Democracy’s Decline, Kurz menghubungkan secara langsung antara kekuatan monopoli dengan ketimpangan politik dan ekonomi yang melanda masyarakat modern. 

Penelitian ini menyoroti bagaimana para taipan teknologi memandang diri mereka sebagai sosok yang lebih unggul dan merasa memiliki peran alamiah untuk membentuk masyarakat, bahkan jika hal tersebut harus mengganggu institusi demokrasi yang ada.

Analisis ini merujuk pada sejarah Gilded Age pertama di akhir abad ke-19. Kala itu, industrialis kaya seperti Andrew Carnegie dan John D. Rockefeller memelintir logika Darwinisme sosial untuk meyakinkan diri bahwa kesuksesan finansial mereka adalah bukti bahwa mereka dipilih oleh alam untuk memengaruhi arah hidup orang banyak. 

Kini, pola serupa muncul kembali. CEO Anthropic, Dario Amodei, misalnya, secara terbuka menyatakan potensi mistis teknologinya sebagai kebaikan transenden, meski di saat yang sama ia mengakui bahwa teknologi tersebut dapat memicu pengangguran massal.

Kegagalan Demokrasi dan Bangkitnya Gerakan Radikal

Menurut Kurz, ketika sistem demokrasi tidak lagi mampu melayani kepentingan para pekerja, pemilih cenderung beralih kepada pemimpin yang memiliki kecenderungan fasis. 

Sejarah mencatat bahwa reformasi New Deal pasca Depresi Besar sempat membatasi kekuatan monopoli dan memberikan manfaat nyata bagi kelompok rentan. Langkah tersebut memicu setengah abad inovasi berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi yang cepat, dan distribusi pendapatan yang stabil.

Namun, pembalikan reformasi pada era pemerintahan Reagan melahirkan apa yang disebut Kurz sebagai Gilded Age kedua. Pada periode ini, perusahaan teknologi mulai mengakumulasi kekuatan monopoli dan kekayaan yang luar biasa. Di sisi lain, sebagian besar warga, terutama pekerja kerah biru tanpa gelar sarjana, menghadapi stagnasi upah di tengah melonjaknya biaya hidup.

Kurz menegaskan bahwa keterpinggiran ekonomi inilah yang menjadi akar penyebab bangkitnya gerakan seperti MAGA (Make America Great Again), bukan sekadar faktor budaya. Kondisi ekonomi yang timpang menciptakan kekecewaan publik yang mendalam terhadap sistem politik yang ada.

David yang Terpaksa Bekerja Sama dengan Goliath

Buku tersebut juga memaparkan bagaimana raksasa teknologi melemahkan kekuatan pemilih melalui pengaruh ekonomi. Saat ini, ekosistem teknologi tidak lagi didorong oleh persaingan murni. 

Perusahaan rintisan (startup) kecil kini sering kali dibentuk bukan untuk menantang pemain besar seperti Microsoft atau OpenAI, melainkan dengan target eksplisit agar nantinya diakuisisi oleh mereka.

Kondisi ini merupakan gejala kekuatan monopoli yang sangat mengakar, di mana inovator baru tidak dapat bertahan tanpa "restu" dari penguasa pasar yang sudah mapan. Hubungan ini digambarkan seperti David yang tidak punya pilihan selain bekerja sama dengan Goliath. 

Kekuatan ekonomi ini kemudian dikonversi menjadi pengaruh lobi yang sangat besar, sehingga politisi yang bergantung pada dana mereka kecil kemungkinan akan berani mengekang kekuasaan para raksasa teknologi ini.

“Ketika Anda menggunakan strategi yang dirancang untuk memanipulasi pengetahuan demi menciptakan kekuatan pasar, Anda sudah melampaui batas yang seharusnya bersedia kita terima,” kata Kurz sebagaimana dikutip oleh The Guardian pada Senin (18/5).

Bahaya Misinformasi dan Kecerdasan Buatan (AI)

Kurz memberikan perhatian khusus pada penggunaan media sosial yang belum teregulasi secara ketat. Ia menilai perusahaan teknologi memanfaatkan algoritma mereka untuk mendorong polarisasi demi meraup laba.

“Aktivitas (media sosial) itu menguntungkan, dan terkadang Anda menciptakan aktivitas dengan membuat kebohongan, yang tidak baik bagi demokrasi,” katanya.

Ia mendesak agar perusahaan teknologi dimintai pertanggungjawaban secara hukum atas misinformasi yang tersebar di platform mereka. Lebih jauh lagi, pengembangan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang tidak teregulasi diprediksi akan memperkuat kekecewaan publik. 

Pasalnya, AI kini tidak hanya mengancam pekerja kasar, tetapi juga mulai berupaya menggantikan peran profesi terdidik seperti dokter, pengacara, dan insinyur.

Menuju Siklus Reformasi Baru

Meski memaparkan kondisi yang kelam, Kurz tetap optimistis bahwa demokrasi akan menemukan jalan untuk bangkit kembali, meskipun melalui proses yang sulit. Ia memperkirakan bahwa krisis besar, seperti resesi atau depresi ekonomi, mungkin akan menjadi pemicu bagi munculnya siklus reformasi baru.

“Trumpisme tidak akan pergi begitu saja. Mungkin akan ada resesi besar atau depresi besar atau krisis lain sebelum kita dapat menyelesaikan siklus reformasi baru,” kata Kurz.

Menurutnya, kondisi saat ini sudah sangat matang untuk perubahan besar. Kurz mengidentifikasi koalisi pendukung gerakan populis saat ini sebenarnya terdiri dari kelompok-kelompok yang pada akhirnya akan terpecah kembali jika kondisi ekonomi berubah. 

Ia percaya bahwa orang Amerika biasa menyadari ada sesuatu yang salah dalam sistem mereka dan menuntut perubahan mendasar.

Guna menjawab tantangan tersebut, Kurz dalam buku Private Power merumuskan serangkaian langkah reformasi sistemis yang harus segera diimplementasikan oleh pemerintah. 

Langkah pertama dimulai dengan pengenaan pajak atas kekayaan berlebih yang dikumpulkan perusahaan melalui kekuatan monopoli, yang kemudian hasilnya didistribusikan kembali untuk keseimbangan ekonomi. 

Selain itu, pemerintah perlu memberikan subsidi pendidikan dan pelatihan bagi para pekerja yang terdampak otomatisasi agar mereka mampu menguasai keterampilan baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Selanjutnya, Kurz menekankan pentingnya pemberian insentif bagi perusahaan yang berkomitmen untuk tetap mempekerjakan tenaga kerja manusia di tengah arus teknologi. 

Langkah ini harus dibarengi dengan regulasi AI yang bersifat pro-pekerja, di mana kebijakan teknologi diarahkan untuk menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat pendukung produktivitas manusia, bukan sebagai pengganti posisi mereka sepenuhnya di pasar kerja. 

Melalui bauran kebijakan ini, diharapkan kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan dengan penguatan demokrasi dan kesejahteraan sosial.

“Jika Anda berbicara dengan orang Amerika biasa yang cerdas, mereka akan mengatakan ada sesuatu yang salah di Amerika dan ada sesuatu yang harus berubah,” pungkasnya menutup diskusi mengenai masa depan demokrasi di tengah kepungan kekuatan teknologi.