periskop.id - Kementerian UMKM merekrut sekitar 1.300 produsen lokal untuk memasok pakaian bagi pedagang thrifting di Pasar Senen dan kawasan lain yang sebelumnya bergantung pada impor baju bekas. Langkah ini bagian dari program peralihan menuju produk lokal seiring pembatasan impor pakaian bekas.

"Baru sekarang, makanya kita siapkan dulu nih. 1.300 akan kita sortir, kita kurasi. Mana yang betul-betul skala bisnisnya cocok dengan teman-teman para pedagang," ujar Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, saat ditemui wartawan dalam peluncuran UMKM Shopee Kelas Online, Selasa (18/11).

Menurut Temmy, merek-merek tersebut masih akan dikurasi supaya benar-benar sesuai kebutuhan pedagang. Ke depan, para penjual dapat bermitra secara B2B, menjadi reseller, distributor, atau bahkan mengembangkan brand sendiri. 

Transisi ini tidak mudah karena pedagang selama ini membeli pakaian bekas dalam bal seharga Rp2 hingga Rp5 juta sesuai kualitas. Sehingga pemerintah juga menyarankan agar merek lokal juga dijual pada kisaran harga tersebut.

"Kementerian UMKM meminta brand lokal, dari skala besar hingga kecil, merancang paket penjualan sebanding agar harga dan jumlah tetap menarik bagi pedagang," tutur Temmy.

Temmy menekankan, dalam bisnis prinsipnya harus saling menguntungkan. Brand lokal pun perlu didorong membuat paket penjualan ala sistem bal, seperti paket Rp5 juta dengan kuantitas dan variasi tertentu.

Keputusan akhir tetap berada di tangan konsumen. Kementerian menyeleksi 1.300 brand dan hanya mempertahankan yang cocok dengan kebutuhan usaha pedagang.

"Jika paket bisnisnya terlalu mahal atau tidak pas dengan segmen pasar, tentu tidak bisa dipaksakan. Semuanya harus menyesuaikan," imbuhnya.