periskop.id - Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Agus Widjojo wafat pada Minggu malam (8/2) di RSPAD Gatot Subroto setelah menjalani perawatan akibat sakit. Hingga kini, penyebab pasti sakit yang dideritanya belum diketahui secara jelas.
Semasa hidup, Agus Widjojo dikenal memiliki rekam jejak peran yang penting di tubuh TNI, terutama melalui gagasan dan pemikiran strategis yang ia sampaikan. Kiprahnya mencakup keterlibatan dalam proses reformasi TNI hingga perjalanan karier di bidang pemerintahan dan diplomasi. Menjelang akhir hayatnya, ia menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina.
Kabar wafatnya Agus Widjojo disampaikan melalui akun Instagram resmi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Jenazah almarhum dikabarkan akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kepergian tokoh ini pun menimbulkan rasa penasaran publik mengenai sosok dan perjalanan hidup Agus Widjojo.
Siapa Agus Widjojo?
Agus Widjojo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 8 Juni 1947. Ia merupakan putra dari Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, pahlawan nasional yang gugur sebagai salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) hingga lulus pada tahun 1970. Setelah itu, ia meniti karier di TNI Angkatan Darat, berawal dari kecabangan infanteri hingga akhirnya mencapai pangkat Letnan Jenderal.
Tidak hanya dikenal sebagai prajurit penjaga keamanan negara, Agus Widjojo juga dihormati sebagai sosok pemikir yang bijak dan visioner. Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI). Dalam posisi tersebut, ia berperan penting dalam upaya restrukturisasi doktrin politik dan keamanan TNI seiring dengan proses transisi menuju era reformasi.
Perjalanan Karier
Dalam kapasitasnya sebagai Komandan Sesko TNI, ia memiliki peran strategis dalam mendorong pembaruan di tubuh militer. Ia pernah menegaskan pandangannya bahwa TNI seharusnya tidak terlibat dalam ranah politik. Pada tahun 1998, bersama Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, ia mendapat mandat untuk menyusun konsep reformasi TNI yang kemudian dikenal sebagai Paradigma Baru TNI.
Saat menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI, ia mengambil langkah tegas dengan menginstruksikan fraksi TNI/Polri untuk menarik diri dari parlemen. Dengan demikian, MPR periode 1999–2004 menjadi periode terakhir keterlibatan TNI/Polri dalam lembaga legislatif.
Dalam bidang hak asasi manusia, ia pernah menjadi anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan RI–Timor Timur yang bertugas menelaah dugaan pelanggaran HAM di Timor Timur. Selain itu, ia juga menggagas serta menjabat sebagai Ketua Panitia Pengarah Simposium Nasional yang membahas tragedi 1965, yang diselenggarakan melalui Kemenko Polhukam pada tahun 2016.
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia dipercaya mengemban jabatan sebagai Deputi Kepala Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R). Di samping itu, ia merupakan Senior Fellow di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) serta Visiting Senior Fellow di Institut Perdamaian dan Demokrasi Universitas Udayana, lembaga yang melahirkan Bali Democracy Forum.
Selanjutnya, pada 15 April 2016, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Istana Merdeka, Jakarta. Usai pelantikan, ia menyatakan komitmennya untuk membawa Lemhannas lebih dekat dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan, agar keberadaan lembaga tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh publik.
Jabatannya sebagai Dubes RI
Agus Widjojo resmi dilantik oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Filipina pada 12 Januari 2022. Pada kesempatan yang sama, ia juga dipercaya untuk merangkap jabatan sebagai Duta Besar RI untuk Republik Kepulauan Marshall dan Republik Palau.
Tinggalkan Komentar
Komentar