Periskop.id - Sebagai negara pengimpor minyak terbesar di dunia, China secara paradoks justru menjadi salah satu negara yang paling siap menghadapi skenario terburuk penutupan Selat Hormuz. 

Melansir laporan Reuters pada Rabu (1/4), jalur maritim vital di kawasan Teluk ini merupakan urat nadi pasokan energi global, namun Beijing telah membangun benteng pertahanan energi yang kokoh selama berpuluh-puluh tahun untuk mengantisipasi gangguan di wilayah tersebut.

Saat negara-negara Asia lainnya mulai khawatir dan meminta warganya untuk mandi lebih singkat atau bekerja dari rumah demi menghemat energi, China menunjukkan ketenangan yang berbeda. 

Surat kabar resmi Partai Komunis China bahkan menegaskan bahwa negara tersebut memiliki "mangkuk nasi energi" sendiri untuk menjamin kelangsungan hidup ekonominya tanpa harus mendikte gaya hidup warganya secara ekstrem.

Kebijakan Jangka Panjang yang Membuahkan Hasil

Ketahanan China tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini merupakan buah dari kebijakan bertahun-tahun yang dirancang untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan energi global. 

Beijing secara tidak resmi telah membatasi ekspor bahan bakar untuk mengamankan pasokan domestik, sebuah langkah yang membuatnya jauh lebih tahan dibandingkan banyak negara tetangganya.

Lauri Myllyvirta, salah satu pendiri Centre for Research on Energy and Clean Air di Finlandia, memberikan analisisnya terkait situasi ini. 

“Situasi saat ini sangat mendekati apa yang telah direncanakan oleh para perencana China selama beberapa dekade. Ini membuktikan dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang diangkut lewat jalur laut,” kata Myllyvirta.

Ledakan Kendaraan Listrik yang Melampaui Target

Salah satu pilar utama ketahanan China adalah dominasi kendaraan listrik (EV). Pada akhir 2020, Beijing menetapkan target agar penjualan EV mencapai 20 persen dari total penjualan kendaraan baru pada tahun 2025. 

Namun, realitas di lapangan jauh melampaui ekspektasi karena pada tahun lalu, angka penjualan EV sudah menyentuh setengah dari total penjualan kendaraan baru.

Lonjakan tak terduga ini membuat konsumsi bahan bakar China mencapai puncaknya setelah puluhan tahun tumbuh pesat. China kini membakar dan mengimpor lebih sedikit minyak dibandingkan perkiraan beberapa tahun lalu. 

Estimasi dari Centre for Research on Energy and Clean Air menyebutkan bahwa jumlah minyak yang berhasil tergantikan oleh kendaraan listrik tahun lalu kira-kira setara dengan total volume minyak yang diimpor China dari Arab Saudi.

Jaringan Listrik Mandiri dan Diversifikasi Pemasok

Berbeda dengan banyak negara yang bergantung pada Gas Alam Cair (LNG) impor untuk pembangkit listrik, jaringan listrik China hampir sepenuhnya ditopang oleh batu bara domestik dan energi terbarukan yang tumbuh sangat pesat. 

Seluruh tambahan kebutuhan listrik tahunan kini hampir sepenuhnya dapat dipenuhi oleh energi surya atau angin, sehingga ketergantungan pada impor LNG di provinsi-provinsi pesisir terus menurun.

Dalam hal pengadaan minyak mentah, China juga menerapkan strategi diversifikasi yang sangat agresif agar tidak bertumpu pada satu pemasok saja. 

Sebagai perbandingan, negara seperti Jepang biasanya membeli hampir 80 persen minyaknya hanya dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. 

Sebaliknya, China membagi porsi impornya secara merata kepada delapan negara berbeda, termasuk memperoleh minyak dengan harga diskon dari Rusia, Venezuela, dan Iran.

Cadangan Rahasia dan Kekuatan Produksi Domestik

China juga menyimpan pasokan dalam cadangan strategis minyak yang bersifat rahasia. Meski ukurannya tidak diketahui pasti secara publik, para ahli memperkirakan bahwa jika digabungkan dengan stok milik kilang komersial, China memiliki cadangan yang cukup untuk menggantikan seluruh impor melalui Selat Hormuz selama kurang lebih tujuh bulan.

Di sisi produksi, China berhasil mencatatkan rekor dengan memproduksi 4,3 juta barel minyak per hari tahun lalu, atau sekitar 40 persen dari total impornya. 

Untuk sektor gas, produksinya meningkat cukup cepat sehingga China kini justru mengimpor lebih sedikit LNG dibandingkan tahun 2020. Jaringan pipa darat dari Rusia, Asia Tengah, dan Myanmar juga terus diperkuat untuk mengurangi ketergantungan pada transportasi jalur laut.

Masa Depan yang Lebih Aman

Transisi besar-besaran ini menandai berakhirnya era di mana pertumbuhan ekonomi China sepenuhnya didorong oleh bahan bakar fosil impor. 

Analisis dari pakar industri menunjukkan optimisme terhadap arah kebijakan energi Beijing ke depan yang kini mulai melepaskan ketergantungan tersebut berkat ledakan kendaraan listrik.

“Permintaan minyak China kemungkinan akan mencapai puncaknya tahun ini dan menurun setelahnya. Jadi meskipun porsi impor tetap tinggi, situasinya kemungkinan tidak akan memburuk,” kata Chen Lin, wakil presiden riset minyak dan gas di Rystad Energy.

Dengan kombinasi teknologi ramah lingkungan, diversifikasi geopolitik, dan penguatan infrastruktur domestik, China tampaknya telah berhasil menciptakan ekosistem energi yang jauh lebih mandiri di tengah ketidakpastian global.