Periskop.id - Peta kekayaan para konglomerat di Indonesia terus mengalami dinamika yang menarik untuk dicermati. 

Berdasarkan data pergerakan kekayaan mutakhir yang dirilis oleh Forbes Real-Time Billionaires pada hari Selasa (30/6), jajaran lima besar orang paling tajir di tanah air diisi oleh nama-nama besar yang memiliki gurita bisnis di berbagai sektor strategis, mulai dari pertambangan, perbankan, hingga energi terbarukan.

Para taipan ini tidak hanya mendominasi panggung perekonomian domestik, melainkan juga berhasil mencatatkan nama mereka dalam jajaran elite miliarder berskala global. 

Akumulasi aset mereka menjadi cerminan dari pertumbuhan nilai emiten serta ekspansi bisnis yang mereka pimpin di pasar finansial.

Low Tuck Kwong

Low Tuck Kwong secara resmi menempati peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dengan estimasi jumlah kekayaan bersih mencapai US$16 miliar. Nilai kekayaan tersebut sekaligus mengantarkan pria kelahiran Singapura ini berada di peringkat ke-177 dalam daftar miliarder dunia.

Dikenal luas oleh publik sebagai raja batu bara, Low Tuck Kwong merupakan pendiri dari Bayan Resources, salah satu perusahaan pertambangan batu bara terkemuka di Indonesia. 

Selain mengandalkan komoditas fosil, ia juga melebarkan sayap bisnisnya dengan mengendalikan Metis Energy, sebuah perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura dan sebelumnya dikenal dengan nama Manhattan Resources. 

Kepentingan bisnis Low Tuck Kwong juga mencakup kepemilikan saham di The Farrer Park Company dan Samindo Resources. 

Di sektor infrastruktur digital, ia turut memberikan dukungan finansial bagi SEAX Global, sebuah perusahaan yang saat ini tengah membangun sistem jaringan kabel bawah laut guna menyediakan konektivitas internet yang menghubungkan wilayah Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Budi Hartono

Berada di peringkat kedua nasional, Budi Hartono mencatatkan nilai kekayaan bersih sebesar US$14,1 miliar, yang menempatkannya di peringkat ke-211 dunia. 

Ia bersama saudaranya, Michael Hartono, yang nilai kekayaannya dihitung secara terpisah oleh Forbes, secara konsisten masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Sumber utama pundi-pundi kekayaan mereka berasal dari investasi strategis di Bank Central Asia (BCA). 

Keluarga Hartono mengambil alih saham mayoritas BCA setelah keluarga konglomerat lain, yaitu keluarga Salim, kehilangan kendali atas bank swasta tersebut akibat hantaman Krisis Ekonomi Asia yang terjadi pada periode tahun 1997 hingga 1998.

Sebelum merambah sektor perbankan, keluarga Hartono pertama kali merintis kekayaan mereka melalui bisnis pengolahan tembakau dan hingga saat ini masih bertahan sebagai salah satu produsen rokok kretek terbesar di tanah air. 

Langkah ekspansi pasar modal mereka juga tercatat lewat aksi penawaran umum perdana saham atau IPO terbesar kedua di Indonesia pada 2022, di mana kakak beradik ini berhasil mengantarkan Global Digital Niaga, perusahaan induk dari raksasa e-commerce Blibli, melantai di bursa dengan menghimpun dana segar mencapai US$510 juta. 

Portofolio bisnis keluarga ini juga mencakup kepemilikan sejumlah properti premium di Jakarta serta merek elektronik lokal populer, Polytron. Pada 2025, Polytron secara resmi memperluas jangkauan pasarnya ke industri kendaraan listrik domestik dengan meluncurkan dua model mobil listrik perdana.

Prajogo Pangestu

Posisi ketiga ditempati oleh Prajogo Pangestu dengan total kekayaan bernilai US$13,2 miliar, yang membuatnya berada di peringkat ke-230 secara global. Ia mengawali perjalanan kariernya di industri perkayuan pada akhir era 1970-an. 

Perusahaan miliknya, Barito Pacific Timber, resmi melantai di bursa efek pada 1993, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Barito Pacific pada 2007 seiring dengan langkah strategis perusahaan mengurangi porsi operasional di bisnis perkayuan.

Pada 2007, Barito Pacific melakukan aksi korporasi besar dengan mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia terbuka, Chandra Asri. Anak usaha dari entitas tersebut, yaitu Chandra Daya Investasi, kemudian dipisahkan dan mulai diperdagangkan secara mandiri di Bursa Efek Indonesia pada 2025.

Sebelumnya, pada tahun 2011, Chandra Asri telah melakukan merger dengan Tri Polyta Indonesia untuk membentuk salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, di mana pada tahun yang sama Thaioil ikut masuk dengan mengakuisisi 15% saham perusahaan. 

Setelah sukses membawa perusahaan tambang batu baranya, Petrindo Jaya Kreasi, melantai di bursa pada 2023, Prajogo Pangestu langsung tancap gas dengan mencatatkan unit usaha yang bergerak di bidang energi hijau, Barito Renewables Energy, pada akhir tahun yang sama.

Anthoni Salim

Taipan makanan dan investasi, Anthoni Salim, mengamankan posisi keempat di Indonesia dengan total pundi-pundi kekayaan sebesar US$10,1 miliar. 

Angka tersebut menempatkan pemimpin Salim Group ini berada di peringkat ke-342 dunia. Anthoni Salim saat ini menjabat sebagai CEO dari Indofood, yang diakui secara global sebagai salah satu produsen mi instan terbesar di dunia.

Secara silsilah keluarga, Anthoni merupakan anak bungsu dari tiga putra mendiang Liem Sioe Liong, konglomerat legendaris yang selama beberapa dekade memiliki hubungan yang sangat erat dengan Presiden Soeharto. 

Di kancah pasar modal internasional, keluarga Salim memiliki porsi kepemilikan saham di First Pacific, sebuah perusahaan investasi yang tercatat di bursa saham Hong Kong. 

First Pacific sendiri memiliki kepentingan bisnis yang besar di Indofood serta perusahaan penyedia layanan telekomunikasi PLDT yang berbasis di Filipina. 

Tidak hanya berfokus pada industri konsumen dan ritel, Anthoni Salim juga memperluas portofolio investasinya di sektor pertambangan dengan memiliki saham di beberapa emiten besar, seperti Bumi Resources, Medco Energi, dan Amman Mineral.

Sri Prakash Lohia

Menutup daftar posisi lima besar, Sri Prakash Lohia tercatat memiliki total kekayaan bersih senilai US$8,5 miliar. Pengusaha ini menempati peringkat ke-422 dalam daftar miliarder global yang dirilis oleh Forbes. 

Ia berhasil mengumpulkan sebagian besar kekayaannya melalui jalur bisnis produksi pupuk dan polimer berskala internasional.

Sejarah mencatat bahwa pada era 1970-an, Lohia bersama dengan ayahnya memutuskan untuk berimigrasi dari India menuju Indonesia. Di Tanah Air, mereka kemudian merintis dan mendirikan Indorama Corp, yang pada awal berdirinya beroperasi sebagai produsen benang pintal. 

Seiring berjalannya waktu, perusahaan tersebut kini telah bertransformasi menjadi raksasa manufaktur material global yang memproduksi beraneka ragam produk kebutuhan industri, meliputi pupuk, poliolefin, bahan baku tekstil, hingga komoditas sarung tangan medis. 

Dalam struktur manajemen perusahaan saat ini, Sri Prakash Lohia masih tetap aktif menjabat sebagai chairman, sedangkan posisi vice chairman dipercayakan kepada putranya, Amit Lohia.