periskop.id - Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mengonfirmasi posisi Indonesia sebagai pemimpin standar halal global yang didukung puluhan negara. Kepala BPJPH Haikal Hassan tengah merancang satu logo halal internasional untuk menyederhanakan mekanisme perdagangan dunia.

"Di mana presidennya adalah kami sendiri. Presiden international halal standar," ungkapnya dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI, Senin (9/2).

Posisi strategis ini dikukuhkan dalam pertemuan internasional di Afrika beberapa waktu lalu. Sebanyak 62 negara delegasi sepakat menunjuk Indonesia sebagai pusat rujukan standar halal dunia.

BPJPH kini fokus merancang regulasi teknis dan aplikasi pendukung standar tersebut. Target utamanya adalah peluncuran satu logo halal tunggal yang berlaku universal di seluruh negara.

Keberagaman logo halal saat ini dinilai menghambat arus ekspor-impor produk. Produsen global terpaksa menyesuaikan kemasan dengan logo berbeda untuk setiap negara tujuan.

Haikal mencontohkan pengusaha cokelat dari Eropa yang kerepotan saat mengirim barang ke Asia. Biaya produksi membengkak karena harus mencetak kemasan khusus untuk pasar Indonesia, Arab Saudi, hingga Filipina.

"Dia ngirim barang ke Indonesia. Ke Saudi. Juga sama ke Filipina. Dia pasang logo Filipina. Nah, ini yang membuat saya mendapat standing applause," jelasnya.

Penyeragaman logo bertujuan memudahkan pelaku usaha tanpa mengurangi esensi syariat. Prinsip memudahkan urusan dagang menjadi landasan utama inisiatif strategis ini.

Reputasi Indonesia sebagai pusat halal dunia kian menguat dengan tingginya minat negara tetangga. Vietnam dan Filipina secara khusus meminta asistensi BPJPH untuk membangun ekosistem serupa.

Forum internasional lanjutan rencananya digelar awal Maret mendatang di Jakarta. Agenda ini menjadi langkah konkret mewujudkan visi Indonesia sebagai kiblat halal dunia pada 2029.