periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai outlook negatif yang diberikan Moody’s terhadap Indonesia tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi dan stabilitas domestik yang sebenarnya. Ia menegaskan indikator sosial-politik dan kepercayaan publik justru menunjukkan perbaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Purbaya, salah satu indikator penting yang menjadi perhatian pemerintah adalah indeks kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Ia menekankan stabilitas sosial-politik sangat berkaitan erat dengan persepsi publik terhadap arah kebijakan dan kepemimpinan nasional.
"Anda nggak usah takut tentang stabilitas sosial politik. Karena kalau kita lihat, itu adalah indeks kepercayaan kepada pemerintah, boleh dibilang kepada Presiden kita," kata Purbaya dalam acara Outlook Economic 2026, Jakarta, Kamis (12/2).
Ia menjelaskan bahwa pada periode sebelumnya, ketika kondisi ekonomi mengalami tekanan dan muncul gejolak, indeks kepercayaan publik sempat berada di bawah level 100. Situasi tersebut, menurutnya, menjadi sinyal adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan maupun program pemerintah.
"Waktu itu sudah mendekati 100, sudah 102 pada Agustus–September. Makanya itu menunjukkan masyarakat tidak puas terhadap kepemimpinan, pemerintah, maupun program-program pemerintah," jelasnya.
Namun setelah pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan dan mendorong pemulihan ekonomi, kondisi tersebut berbalik. Ia menyebut saat ini tingkat kepercayaan publik telah kembali meningkat bahkan mencapai titik tertinggi.
"Artinya apa? Stabilitas sosial politik amat tinggi. Itu salah satu pilar dari Sumitronomics. Jadi yang lain tinggal kita genjot untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih baik," terang dia.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ia mengakui bahwa realisasi kuartal IV tidak sepenuhnya sesuai dengan target awal yang ia sampaikan. Meski demikian, capaian tersebut tetap dinilai solid dalam konteks pemulihan pascapandemi.
"Saya janji 5,6%–5,7%. Tapi karena kendala yang sekarang sudah kita hentikan, tumbuhnya hanya 5,39%," tambahnya.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11%. Purbaya menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi di antara negara-negara G20, bahkan melampaui China. Ia menilai capaian ini menunjukkan daya tahan ekonomi domestik yang cukup kuat meski berada dalam tekanan global.
"5,39% itu tertinggi. Tahunannya jadi kita 5,11%, kan itu paling tinggi di G20. Lebih tinggi dari China. Dan lucunya, waktu kita belum mengeluarkan angka ini orang berpikir ekonomi kita tumbuhnya akan lambat sekali," terangnya.
Ia mengaitkan outlook negatif Moody’s dengan asumsi bahwa pertumbuhan Indonesia akan melambat tajam. Namun menurutnya, realisasi pertumbuhan justru lebih kuat dari perkiraan sejumlah lembaga internasional.
"Makanya Moody’s mengeluarkan outlook kita negatif, karena ada prospek pertumbuhan yang lebih lambat katanya. Ternyata kuatnya lebih tinggi," tambahnya.
Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, pihaknya akan mengakselerasi stimulus ekonomi pada triwulan pertama. Fokusnya adalah mendorong belanja pemerintah dan memperbaiki iklim investasi agar sektor swasta dapat berekspansi lebih agresif.
"Triwulan pertama ini kita akan injeksi semua stimulus yang ada di pemerintah maupun yang lain-lain, untuk belanja habis-habisan dan memperbaiki iklim investasi besar supaya dunia usaha juga bisa ekspansi," papar dia.
Lebih lanjut, Purbaya optimistis ekspansi ekonomi akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, seiring penguatan permintaan domestik dan percepatan investasi.
"Anda nggak usah takut. Kalau investor di pasar modal atau dunia bisnis, cepat-cepat jalankan rencana investasi Anda," Purbaya mengakhiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar