Periskop.id - Dominasi China sebagai eksportir barang terbesar di dunia kian tak terbantahkan. Bagi banyak negara, Negeri Tirai Bambu tersebut memegang peran sentral dalam menjaga stabilitas rantai pasok domestik mereka. 

Fenomena ini tercermin dalam data terbaru yang dirilis oleh Visual Capitalist pada Jumat (27/2). Berdasarkan kompilasi data dari UN Comtrade dan Bank Dunia, terlihat seberapa dalam ketergantungan berbagai negara terhadap produk impor dari China.

Ketergantungan ini tidak hanya mencakup barang jadi, tetapi juga bahan baku yang menggerakkan industri manufaktur global.

Daftar Negara dengan Ketergantungan Impor Tertinggi

Kamboja tercatat sebagai negara yang paling bergantung pada China dengan persentase impor mencapai 46,8%. Menurut The Observatory of Economic Complexity, tingginya angka ini disebabkan oleh besarnya kebutuhan Kamboja akan bahan baku industri tekstil yang merupakan komoditas ekspor utama mereka.

Banyak negara dalam daftar ini adalah negara berkembang yang belum memiliki basis manufaktur domestik yang kuat atau mereka yang mengandalkan input dari China untuk menopang industri ekspor seperti perakitan elektronik. 

Kontras dengan daftar tersebut, Amerika Serikat berada di peringkat ke-97 dengan ketergantungan sebesar 13,8%. 

Indonesia sendiri menempati posisi ke-9 dalam daftar global dengan tingkat ketergantungan sebesar 31,4%. Hal ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari total barang yang masuk ke pasar Indonesia berasal dari China. 

Ketergantungan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari barang elektronik konsumen, mesin industri, hingga bahan baku penolong yang dibutuhkan oleh pabrik-pabrik lokal. 

Posisi Indonesia yang strategis di Asia Tenggara menjadikannya pasar utama sekaligus mitra penting dalam ekosistem perdagangan China di kawasan ini.

Berikut adalah rincian 10 negara dengan tingkat ketergantungan impor barang dari China tertinggi berdasarkan data tahun 2024:

PeringkatNegaraKetergantungan Impor (%)
1Kamboja46,8
2Kirgizstan45,8
3Hong Kong40,9
4Mongolia40,5
5Vietnam34,0
6Myanmar33,5
7Ethiopia32,7
8Paraguay32,5
9Indonesia31,4
10Tanzania30,5

Investasi dan Inisiatif One Belt, One Road

Hubungan dagang China sering kali melampaui sekadar transaksi jual beli barang. Melalui inisiatif ambisius One Belt, One Road yang diluncurkan pada tahun 2013, China memperkuat pengaruhnya melalui investasi infrastruktur. 

Bank milik negara China membiayai proyek pelabuhan dan dermaga di berbagai negara berkembang melalui skema pinjaman. Kamboja, misalnya, menerima hibah dan pinjaman senilai US$3 miliar antara tahun 2002 hingga 2023. 

Contoh lainnya adalah Djibouti yang memiliki ketergantungan impor 17,7%. China membangun pelabuhan sebagai tulang punggung ekonomi Djibouti dan mendirikan pangkalan militer pertamanya di sana pada tahun 2017, berdekatan dengan fasilitas militer milik Amerika Serikat. 

Strategi ini memberikan China pengaruh politik dan ekonomi yang besar, terutama jika negara peminjam mengalami kesulitan dalam melunasi utangnya.

Transformasi Ekspor: Dari Barang Murah ke Teknologi Tinggi

Label "Made in China" yang dulu identik dengan barang murah kini telah bertransformasi. Teknologi telah menjadi komoditas ekspor terbesar China setelah mereka berhasil memantapkan diri sebagai pusat manufaktur dunia dengan biaya tenaga kerja yang kompetitif.

Komponen sirkuit terpadu (integrated circuits) kini menyumbang porsi terbesar dalam ekspor mereka, disusul oleh telepon seluler dan otomotif. Selain itu, dunia sangat bergantung pada China dalam pemrosesan mineral kritis yang esensial bagi industri pertahanan dan elektronik modern. 

Dominasi ini memicu negara-negara seperti Amerika Serikat untuk mulai memperkuat kapasitas domestik dan melakukan diversifikasi rantai pasok melalui kebijakan tarif guna mengurangi risiko ekonomi global jika terjadi gangguan di China.