periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penutupan Selat Hormuz turut menganggu suplai energi global dan memicu lonjakan harga komoditas terutama minyak. Menurutnya ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global.
"Yang ditandai volatilitas tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe heaven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun," tutur Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa, Jakarta Rabu (11/3).
Ia menjelaskan, dampaknya bagi Indonesia dapat muncul melalui beberapa jalur yang perlu diwaspadai. Pertama, dari jalur perdagangan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas dan menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran.
Kemudian, jalur pasar keuangan, Purbaya mengatakan bahwa ketidakpastian global bisa memicu capital outflow, tekanan pada pasar saham, obligasi, nilai tukar rupiah serta dapat meningkatkan cost of fund.
Selanjutnya dari jalur fiskal, Bendahara Negara itu bilang, APBN berperan sebagai shock absorber meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang di tengah windfall profit dari komoditas seperti batu bara, nikel, dan CPO.
Oleh karena itu, katanya, pemerintah akan terus memantau perkembangan ini secara ketat dan memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent.
"Agar respons kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar