periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, seiring pelemahan indeks dolar AS di tengah optimisme meredanya konflik geopolitik global. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah ditutup menguat 54 poin ke level Rp17.333 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.387 per dolar AS.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 54 poin, sebelumnya sempat menguat 60 poin di level Rp17.333 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.387,” ujarnya.
Dari sentimen eksternal, pelemahan dolar AS dipicu optimisme pasar atas kemungkinan berakhirnya konflik di Timur Tengah. Meski demikian, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan dengan Iran masih terlalu dini serta respons Iran terhadap proposal AS membuat pasar tetap berhati-hati.
Di sisi lain, laporan media AS menyebutkan bahwa kesepakatan damai antara kedua pihak semakin mendekati titik temu, dengan respons Iran terhadap sejumlah poin penting diperkirakan keluar dalam waktu dekat.
Pelaku pasar juga mencermati rilis klaim pengangguran awal AS serta pidato pejabat Federal Reserve, menjelang data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat (8/5), yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, tekanan fiskal akibat tingginya harga energi global turut menjadi perhatian. Potensi membengkaknya subsidi energi seiring tingginya harga minyak dan crack spread berisiko membebani APBN.
Jika harga minyak dunia seperti Brent bertahan di kisaran US$120 per barel, pemerintah berpotensi menghadapi dilema penyesuaian harga BBM bersubsidi, meski langkah tersebut menjadi opsi terakhir karena dampaknya terhadap daya beli masyarakat.
Tinggalkan Komentar
Komentar