periskop.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat. Pemerintah melihat adanya aliran dana asing yang mulai masuk ke pasar obligasi Indonesia.

 

"Rupiah tidak akan bertahan di level yang (rendah) ini untuk terlalu lama. Kan tadi kita sudah melihat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi kan? Dana mulai masuk ke sini, dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (19/5).

 

Pemerintah telah mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Langkah ini krusial di tengah tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

 

Salah satu strategi utama pemerintah adalah melakukan pembelian obligasi di pasar sekunder. Upaya ini dilakukan demi meredam gejolak yang terjadi.

 

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 38 poin atau 0,22 persen. Posisi rupiah berada di level Rp17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.

 

Menkeu mengatakan pemerintah telah masuk ke pasar obligasi sejak pekan lalu. Langkah intervensi ini bertujuan meredam tekanan sekaligus menjaga kepercayaan investor.

 

Strategi tersebut terbukti mulai berdampak positif pada pasar keuangan. Dampak nyatanya terlihat pada penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.

 

Purbaya menjelaskan investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Aliran modal ini tercatat masuk di pasar sekunder maupun pasar primer.

 

Dana asing yang masuk ke pasar sekunder tercatat sekitar Rp500 miliar. Sementara itu, aliran dana asing di pasar primer berkisar Rp1,68 triliun.

 

Masuknya dana asing menjadi sinyal awal yang sangat baik. Hal ini menandakan pemulihan kepercayaan investor terhadap pasar surat utang Indonesia.

 

“Jadi, tindakan kita menjaga stabilitas pasar obligasi itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap obligasi kita, mereka mulai masuk, dolar mulai masuk kan ya harusnya,” ujarnya.

 

Di sisi lain, Purbaya memastikan pemerintah tidak akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah. Asumsi ini tetap dipertahankan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 

Pemerintah juga tidak mengubah asumsi harga minyak dunia. Nilai acuan yang digunakan tetap sebesar 100 dolar AS per barel.

 

“Saya nggak harus mengubah apa-apa lagi. Kami sudah melakukan penghematan yang kami pikir cukup untuk keadaan sekarang, termasuk rupiahnya sudah bergeser waktu melakukan simulasi itu,” katanya.