periskop.id - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) berada dalam posisi aman.
Sehingga, Purbaya menjamin tidak akan ada kenaikan harga BBM subsidi hingga akhir tahun 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkeu Purbaya guna merespons kekhawatiran publik, menyusul tren pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17.640 per dolar AS, melampaui asumsi dasar makro yang ditetapkan awal pada APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Menkeu menegaskan bahwa Kementerian Keuangan telah mengalkulasi berbagai skenario buruk, termasuk depresiasi mata uang.
Anggaran belanja subsidi energi, kata Purbaya, telah dikunci menggunakan perhitungan angka kurs terbaru yang lebih realistis dan aman untuk mengantisipasi lonjakan biaya impor minyak mentah.
"Subsidi BBM masih kita pertahankan sampai akhir tahun. Ada yang tanya rupiahnya melemah, bagaimana dampaknya ke subsidi? Waktu hitung kita memang sudah ambil angka rupiah tertentu yang berbeda dengan asumsi APBN yang kemarin," kata Purbaya.
Menurut Purbaya, pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat serta mempertahankan stabilitas sosial, politik, dan ekonomi nasional di tengah tekanan makroekonomi global.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan biaya ekonomi dan sosial yang harus dibayar akibat gejolak di masyarakat jauh lebih besar dibanding nilai anggaran yang dikeluarkan untuk menambal subsidi.
"Kalau saya naikin BBM, pasti banyak protes, bisa ada keributan yang akan merusak stabilitas sosial politik. Pada akhirnya, uang yang saya punya pun enggak akan bisa saya pakai untuk membangun. Kenapa? Keadaan kacau. Jadi saya keluarkan sedikit untuk subsidi supaya keadaan tenang, jadi saya bisa membangun," jelasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar