periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas panen padi pada April 2026 mencapai 1,40 juta hektare, turun 15,47% dibandingkan April 2025 yang mencapai 1,65 juta hektare.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan potensi luas panen padi pada periode Mei hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 2,69 juta hektare. Angka tersebut lebih rendah 0,02 juta hektare atau 0,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, secara kumulatif luas panen padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 7,20 juta hektare atau meningkat tipis 0,01 juta hektare atau 0,02% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang Mei hingga Juli 2026 seperti serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, kemudian banjir, kekeringan, serta waktu pelaksanaan panen oleh petani dan lain sebagainya," kata Pudji dalam konferensi pers, Jakarta, Selasa (2/6).
Sejalan dengan perkembangan luas panen, produksi padi pada April 2026 tercatat sebesar 7,63 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 16,03% dibandingkan April 2025 yang mencapai 9,09 juta ton GKG.
Sementara itu, potensi produksi padi pada Mei hingga Juli 2026 diperkirakan sebesar 13,75 juta ton GKG atau turun 0,16 juta ton GKG (1,14%) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan perkembangan tersebut, produksi padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 38,11 juta ton GKG, turun 0,13 juta ton GKG atau 0,34% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Dengan demikian, produksi padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 38,11 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 0,13 juta ton GKG atau 0,34% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025," paparnya.
Penurunan produksi padi juga tercermin pada produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat. Pada April 2026, produksi beras tercatat sebesar 4,40 juta ton, turun 16% dibandingkan April 2025 yang mencapai 5,23 juta ton.
Adapun potensi produksi beras selama Mei hingga Juli 2026 diperkirakan sebesar 7,92 juta ton, turun 0,09 juta ton atau 1,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, produksi beras sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 21,95 juta ton atau turun 0,08 juta ton (0,35%) dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
BPS juga mencatat sebaran potensi panen padi pada Mei hingga Juli 2026 masih terkonsentrasi di sejumlah sentra produksi utama. Di Pulau Jawa, potensi panen terbesar berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten.
Sementara di Pulau Sumatera, potensi panen terkonsentrasi di Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Adapun di Pulau Sulawesi, sentra panen utama berada di Sulawesi Selatan, sedangkan di Kalimantan berada di Kalimantan Selatan. Untuk wilayah Nusa Tenggara, potensi panen terbesar terdapat di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT)..
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar