periskop.id - Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Budi Awaludin, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi rencana penyesuaian tarif layanan Transjabodetabek. 

Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya soal angka, tetapi juga bagaimana menjaga minat masyarakat, khususnya warga daerah penyangga, agar tetap memilih transportasi umum dibanding kendaraan pribadi.

Advertisement

“Seperti tarif maksimum Rp10.000 dalam 3 jam yang diakses melalui aplikasi JakLingko agar mencakup seluruh rute Transjabodetabek,” ujar Budi, Sabtu (6/6). 

Skema ini memungkinkan pengguna mengombinasikan moda transportasi seperti Transjakarta, MRT, dan LRT dalam satu perjalanan berkelanjutan dengan biaya terjangkau. Namun, ia menekankan bahwa fasilitas tersebut hanya dapat diakses melalui aplikasi JakLingko.

Selain sosialisasi komprehensif mengenai urgensi penyesuaian tarif, Dishub DKI juga berencana memperluas skema tarif integrasi. Upaya lain yang dilakukan adalah peningkatan kualitas layanan, termasuk kepastian jadwal keberangkatan yang lebih akurat untuk memangkas waktu tempuh. 

Dishub juga memperhatikan aspek first mile dan last mile dengan memperbaiki fasilitas pendukung di titik transit, serta menyediakan rute pengumpan agar penumpang lebih mudah mencapai tujuan akhir. 

“Termasuk integrasi fisik yang aman dengan halte atau stasiun,” tambahnya.

Budi mengungkapkan bahwa subsidi untuk layanan Transjabodetabek pada 2026 mencapai Rp401 miliar, dengan rata-rata subsidi per pelanggan sebesar Rp12.258. 

Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keterjangkauan transportasi publik. Meski tidak ada kendala besar dalam pengembangan layanan, ia menilai koordinasi lebih lanjut tetap diperlukan, terutama terkait pembangunan halte dan pengelolaan subsidi.

Sebagai catatan, Jakarta baru-baru ini menempati peringkat ke-17 dunia dalam kategori transportasi umum terbaik menurut riset global. 

Pencapaian ini memperlihatkan bahwa integrasi moda transportasi di Jabodetabek semakin diakui secara internasional, meskipun tantangan seperti kemacetan dan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi masih menjadi pekerjaan rumah besar.