periskop.id - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyatakan tingkat kunjungan masyarakat ke mal masih terbilang stabil. Namun, pola berbelanja konsumen mengalami pergeseran nyata dalam satu hingga dua tahun terakhir.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menuturkan, belum ada penurunan signifikan dari sisi jumlah pengunjung pusat perbelanjaan. Ia menyebut perubahan justru terjadi pada cara masyarakat memilih dan membeli produk, bukan pada kebiasaan mereka untuk datang.
"Jadi masyarakat masih tetap ke pusat belanja. Tingkat kunjungan kalau berdasarkan data kami tetap dalam kondisi stabil, ya ada turun naik sedikit, tapi saya kira dalam kondisi stabil begitu," kata Alphonzus saat ditemui di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6).
Ia menguraikan, yang berubah adalah tren belanja, bukan frekuensi kunjungan. Konsumen kini cenderung lebih selektif dan mengincar produk dengan harga satuan, atau unit price, yang lebih kecil.
"Yang terjadi itu adalah tren belanjanya yang berubah. Sudah ada satu, dua tahun terakhir ini tren belanjanya berubah, karena mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya, atau unit price-nya itu murah, kecil begitu," ujar Alphonzus.
Kendati demikian, ia menegaskan hampir seluruh kategori produk tetap dibeli masyarakat. Konsumen tidak meninggalkan jenis barang tertentu, melainkan beralih ke varian yang lebih terjangkau di kategori yang sama.
"Semua kategori produk itu dibeli ya, bukannya ada yang tidak dibeli, hampir semua dibeli, hanya saja dipilihnya yang harga satuannya, atau unit price-nya murah," ungkapnya.
Pergeseran ini, menurut Alphonzus, turut mendorong permintaan terhadap produk berharga rendah secara keseluruhan. Ia menyebut fenomena tersebut ikut menjelaskan maraknya barang impor ilegal serta meningkatnya minat terhadap pakaian bekas belakangan ini.
Faktor budaya juga disebut Alphonzus sebagai penyangga kunjungan mal di tengah tekanan ekonomi. Kebiasaan masyarakat Indonesia berkumpul dinilainya membuat pusat perbelanjaan tetap dipilih sebagai tujuan, apa pun kondisinya.
"Masyarakat tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan, relatif tidak terlalu banyak penurunan untuk tingkat kunjungan. Apalagi orang Indonesia budayanya suka berkumpul. Susah atau tidak susah tetap kumpul, dan salah satunya ya di pusat perbelanjaan," jelasnya.
Pergeseran pola belanja ini pada akhirnya menekan kinerja penjualan ritel. Alphonzus mengakui pertumbuhan omzet masih terjadi, tapi tidak mencerminkan potensi sesungguhnya industri. Ia menunjuk sejumlah indikator yang seharusnya mendorong lonjakan lebih besar, mulai dari bertambahnya jumlah mal di berbagai daerah, masuknya merek-merek asing terutama dari China, hingga ekspansi gerai peritel ke luar Jakarta.
"Secara teori terjadi peningkatan yang signifikan, tapi karena tekanan daya beli dan berbagai tekanan akibat kondisi global, itulah yang membuat peningkatannya tidak signifikan begitu," pungkas Alphonzus.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar