Periskop.id - Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja memperingatkan kenaikan harga barang konsumsi hampir pasti terjadi pada kuartal IV/2026. Pemicunya adalah masuknya stok baru hasil produksi ketika biaya bahan baku, logistik, dan energi sudah lebih mahal.
Ia menjelaskan, produk yang beredar di pasaran saat ini masih berasal dari persediaan lama, sehingga kenaikan harga belum signifikan terasa oleh konsumen. Ketika stok baru mulai mengisi rak-rak toko menjelang akhir tahun, kondisi itu berpotensi langsung berdampak pada harga jual.
"Stok baru ini adalah hasil produksi dari harga-harga material yang sudah naik di triwulan II dan triwulan III. Sekarang di triwulan II, triwulan III relatif harga masih naik, tapi belum signifikan karena itu adalah barang produk hasil stok yang lama. Tapi nanti di triwulan IV hampir pasti harga akan naik. Jadi saya kira itu yang harus diantisipasi," kata Alphonzus, dikutip Sabtu (11/7).
Alphonzus menilai kelompok menengah bawah akan menjadi yang paling terdampak. Daya beli segmen ini dinilai belum sepenuhnya pulih, sehingga kenaikan harga berpotensi semakin menggerus kemampuan konsumsi mereka.
Kenaikan harga diperkirakan menyasar hampir seluruh kategori barang, bukan hanya satu jenis produk. Kenaikan biaya logistik, energi, dan bahan baku dinilai memengaruhi seluruh rantai produksi dan distribusi, mulai dari makanan dan minuman hingga produk non-pangan.
Karena itu, APPBI mendesak pemerintah memprioritaskan penjagaan daya beli masyarakat pada semester II/2026, ketimbang memberikan insentif langsung kepada pelaku ritel. Alphonzus menegaskan, insentif ke sektor ritel tidak akan berguna jika masyarakat masih menahan konsumsi.
"Kalau daya belinya meningkat, pasti belanja. Jadi saya kira lebih baik fokus bagaimana meningkatkan daya beli. Karena itu yang jauh lebih penting menurut saya daripada insentif yang langsung ke retail. Diberikan insentif, kalau enggak ada yang beli tidak ada gunanya," tuturnya.
Kekhawatiran APPBI itu sejalan dengan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI). Pada Juni 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terkoreksi menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026.
Meski angkanya masih di atas level 100 yang menandakan konsumen tetap optimistis, penurunan itu mencerminkan melemahnya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi enam bulan ke depan. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun menjadi 109,2 dari 112,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah dari 129,7 menjadi 126,4.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan, kenaikan harga barang di tingkat ritel tidak serta-merta tercermin pada angka inflasi secara keseluruhan.
Merespons tren penurunan IKK tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan pemerintah terus mengupayakan stimulus daya beli lewat program diskon. Kementerian Perdagangan menggandeng pelaku ritel melalui program Belanja di Indonesia Aja (BINA) yang melibatkan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dan APPBI.
"Terkait dengan IKK, makanya kenapa kita membuat program-program diskon di department store seperti program BINA yang dilakukan oleh Hippindo, Aprindo, maupun APPBI. Jadi itu salah satu cara bagaimana kita merangsang pertumbuhan atau daya beli, khususnya konsumsi terhadap produk-produk domestik," kata Budi dalam kesempatan yang sama di Trans Studio Mall Cibubur, Kamis (9/7).
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar