periskop.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memetakan empat klaster industri yang terpengaruh oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Sektor yang paling perlu diwaspadai adalah industri berbahan baku impor dengan pasar domestik, seperti tekstil, komponen elektronik, dan plastik.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief memaparkan, keempat klaster dibedakan berdasarkan asal bahan baku dan orientasi pasar produknya. Klaster pertama, yakni industri berbahan baku impor yang menjual produknya di dalam negeri, ia nilai sebagai kelompok yang paling rentan terhadap fluktuasi rupiah.

Advertisement

"Di antara 4 klaster itu yang perlu kita perhatikan adalah industri yang bahan bakunya impor dan produknya dijual di dalam negeri. Nah, industri ini banyak misalkan itu ada di tekstil, elektronik, komponen elektronik yang impor tapi produk elektroniknya dijual di dalam negeri. Terus kemudian ada beberapa industri misalkan di industri petrokimia, bahan baku plastik, plastik kan dijual di dalam negeri. Nah, ini yang perlu kita mencermati," kata Febri di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta, Senin (8/6).

Sebagai respons, Kemenperin mendorong pelaku industri memanfaatkan fasilitas Local Currency Settlement (LCS) yang dikembangkan Bank Indonesia (BI). Lewat skema ini, pembelian bahan baku dari negara-negara mitra bisa dilakukan menggunakan mata uang lokal, tanpa harus bergantung pada dolar AS.

"Jadi, ketika mereka beli bahan baku impor itu tidak harus dalam dolar. Tidak harus dalam dolar jika bisa menggunakan uang yang dari negara-negara yang sudah bekerja sama dengan kita seperti China, Jepang, Indonesia, Malaysia, Thailand," tuturnya.

Pelemahan rupiah juga ia lihat sebagai momentum untuk mempercepat pengembangan industri substitusi impor di dalam negeri. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku dari luar negeri bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk membangun fasilitas produksi bahan baku secara lokal.

Pada kesempatan yang sama, Febri meluruskan anggapan yang selama ini beredar bahwa mayoritas bahan baku industri nasional masih bergantung pada impor. Data Kemenperin, menurutnya, menunjukkan porsi bahan baku impor dalam struktur manufaktur nasional hanya sekitar 21%.

Ia merinci, sebanyak 34% kebutuhan bahan baku industri dipasok dari sektor manufaktur itu sendiri, baik dari industri hulu maupun industri antara (intermediate). Sementara 45% sisanya bersumber dari sektor hulu seperti perkebunan, kehutanan, pertambangan, minyak, listrik, dan gas.

Pernyataan Febri itu disampaikan di tengah tekanan nilai tukar yang cukup signifikan. Rupiah tercatat berada di level Rp18.187 per dolar AS pada pukul 15.10 WIB, menguat 0,84% atau 151 poin dari posisi sebelumnya.

"Dari struktur industri, bahan baku kita hanya 21% yang dari impor. Karena selama ini kita terlena dengan narasi bahwa 70% bahan baku industri itu impor. Itu terhadap total impor. Angka 21% itu dari total semua bahan baku industri, industri di hulu, di intermediate, dan hilir," tutup Febri.