Periskop.id - Masyarakat Indonesia tampaknya harus kembali menghadapi situasi ekonomi yang menantang setelah harga-harga barang di pasar merangkak naik. 

Berdasarkan analisis makroekonomi terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam laporan bertajuk "Inflasi Bulanan Juni 2026", laju inflasi domestik menunjukkan tren peningkatan pada Mei 2026. 

Advertisement

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada April 2026 yang sempat mengalami pelandaian harga.

Secara tahunan atau year on year, angka inflasi pada Mei 2026 melompat ke level 3,08% jika dibandingkan dengan capaian April 2026 yang berada di angka 2,42%. Sementara dari perhitungan bulanan atau month to month, inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28%, meningkat hampir dua kali lipat dari bulan April yang hanya sebesar 0,13%. 

Fenomena ini tergolong tidak biasa karena berbeda dengan bulan Mei tahun 2025 lalu yang sempat mencatatkan deflasi atau penurunan harga. 

Pada tahun ini, harga-harga kebutuhan justru kompak meroket setelah momen perayaan Lebaran akibat kombinasi tiga tekanan utama yaitu lonjakan harga pangan, peningkatan biaya energi dan transportasi, serta momen perayaan Iduladha yang jatuh lebih awal.

Komoditas Pangan Jadi Motor Utama Lonjakan Harga

Sektor pangan menjadi sumber tekanan paling besar yang langsung membebani dompet masyarakat jelang pertengahan tahun ini. LPEM FEB UI mencatat bahwa komponen harga bergejolak secara tahunan melonjak drastis dari 3,37% pada April 2026 menjadi 6,24% pada Mei 2026. 

Jika diteliti lebih dalam, komoditas yang memberikan andil atau poin penyumbang inflasi terbesar adalah cabai merah sebesar 0,08 poin, disusul oleh minyak goreng dan bawang merah yang masing-masing menyumbang 0,04 poin. Selain itu, tomat turut andil sebesar 0,03 poin dan beras menyumbang 0,02 poin.

Pergeseran ini terbilang sangat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Komoditas seperti cabai merah dan bawang merah yang biasanya bertindak sebagai penahan laju inflasi, kini justru berbalik menjadi motor penggerak kenaikan harga. 

Para ahli dari Universitas Indonesia memetakan empat penyebab utama di balik anomali harga pangan ini, mulai dari berakhirnya masa musim panen raya di berbagai daerah, terjadinya gangguan kapasitas produksi akibat faktor cuaca yang tidak menentu, kenaikan permintaan pasar menjelang Iduladha, hingga belum lancarnya jalur distribusi logistik antarwilayah.

Kenaikan Biaya Energi dan Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Selain urusan perut, masyarakat juga dihantam oleh kenaikan pos pengeluaran di sektor energi dan transportasi. Kelompok harga yang diatur oleh pemerintah atau administered prices tercatat naik menjadi 2,07% secara tahunan pada Mei 2026, berbanding 1,53% pada April 2026. 

Berbeda dengan awal tahun yang pergerakannya dipengaruhi oleh efek penyesuaian tarif listrik, inflasi Mei 2026 ini murni dipicu oleh kenaikan biaya secara langsung di lapangan. Faktor pendorong utamanya adalah kebijakan penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang berlaku sejak 18 April 2026 serta kenaikan harga BBM nonsubsidi sejak 4 Mei 2026. 

Beban ini semakin berat setelah Kementerian Perhubungan membuka ruang penyesuaian tarif angkutan udara melalui kebijakan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge per 13 Mei 2026 akibat fluktuasi harga avtur dunia.

Kondisi dalam negeri tersebut diperparah oleh tekanan eksternal berupa depresiasi atau melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Fenomena ini memicu terjadinya inflasi barang impor atau imported inflation, karena biaya mendatangkan produk jadi, pasokan energi, hingga bahan baku produksi dari luar negeri otomatis menjadi jauh lebih mahal. 

Sepanjang Mei 2026, mata uang rupiah terus loyo hingga sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di angka Rp17.883 per dolar Amerika Serikat pada akhir bulan.

Kondisi makro ini berdampak langsung pada naiknya ongkos produksi industri, melambungnya harga barang elektronik, serta mendorong biaya logistik nasional ke level yang lebih tinggi. 

Bahkan catatan terbaru menunjukkan per 10 Juni 2026, posisi rupiah masih bertengger di level Rp17.930 per dolar Amerika Serikat.

Respons Bank Indonesia dan Rambatan Kenaikan Harga ke Sektor Hulu

Merespons tekanan inflasi dan pelemahan rupiah yang kian mengkhawatirkan, Bank Indonesia mengambil langkah cepat dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 dan meningkat lagi menjadi 5,5% pada Juni ini. 

Kebijakan moneter ini ditempuh sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas makroekonomi, menahan kejatuhan nilai tukar rupiah, serta mengendalikan ekspektasi inflasi di masyarakat. 

Namun, laporan LPEM FEB UI menilai dampak dari kenaikan suku bunga ini terhadap pengendalian inflasi jangka pendek diperkirakan masih akan terbatas. Pasalnya, akar masalah inflasi saat ini lebih banyak bersumber dari sektor pasokan barang seperti komoditas pangan, energi, dan transportasi. 

Intervensi kebijakan moneter lewat suku bunga memang bisa membantu menstabilkan nilai tukar, namun untuk menjinakkan harga pangan yang bergejolak tetap memerlukan penanganan yang lebih terarah langsung pada rantai pasokan fisik di lapangan.

Kombinasi berbagai tekanan ekonomi ini terbukti telah merembet hingga ke sektor hulu atau rantai awal produksi. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) pada Mei 2026 mengalami lonjakan cukup tajam menjadi 5,76% secara tahunan, naik dari bulan April 2026 yang sebesar 3,81%. 

Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa biaya produksi dan harga jual di tingkat grosir atau pabrik sudah mengalami peningkatan nyata.

Jika dibedah per sektor secara tahunan, sektor pertambangan mencatatkan kenaikan paling tinggi dan tajam yakni meroket dari 2,43% menjadi 8,92%. Sektor pertanian juga melonjak dari 4,52% menjadi 7,73%, sementara industri pengolahan naik dari 2,99% menjadi 3,72%. 

Tingginya angka inflasi di tingkat produsen ini didorong oleh mahalnya harga komoditas hulu seperti bijih besi, mineral, serta kenaikan tarif listrik, gas, dan air. Ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda juga membuat biaya energi dan bahan baku industri manufaktur belum sepenuhnya bisa turun.

Proyeksi Risiko Inflasi di Bulan Juni 2026

Melihat seluruh perkembangan indikator ekonomi terkini yang serba dinamis, tim peneliti dari LPEM FEB UI mengeluarkan proyeksi bahwa tantangan ekonomi ini masih akan berlanjut. Laju inflasi untuk periode Juni 2026 diperkirakan masih berisiko mengalami peningkatan lebih lanjut.

Berdasarkan perhitungan matematis dan pemantauan tren pasar, angka inflasi pada Juni 2026 diproyeksikan akan berada di kisaran 3,14% hingga 3,30% secara tahunan. Sementara untuk laju inflasi bulanan, angkanya diprediksi bergerak di kisaran 0,24% hingga 0,39%.

Estimasi ini menjadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk segera memperkuat tata kelola stok pangan dan energi nasional agar beban hidup masyarakat tidak semakin berat ke depan.