Ekonomi

Faktor Harga Minyak Dunia, Beban Subsidi BBM Diproyeksikan Turun pada 2027

Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya memproyeksikan beban subsidi energi APBN 2027 melandai berkat penurunan harga minyak dunia dan efisiensi energi.

1 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Faktor Harga Minyak Dunia, Beban Subsidi BBM Diproyeksikan Turun pada 2027
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya. (Dok. DPR RI)
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya memproyeksikan beban subsidi energi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2027 bakal jauh lebih ringan daripada tahun 2026. Penurunan beban fiskal negara ini dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah dunia serta langkah efisiensi melalui penerapan energi alternatif seperti B50.

Menurutnya, ruang fiskal yang diproyeksikan lebih longgar tidak akan membuat negara lepas tangan terhadap masyarakat. Ia menegaskan keberpihakan kepada rakyat kecil lewat subsidi LPG 3 kg dan BBM dipastikan tetap bertahan.

"Mudah-mudahan dari turunnya harga minyak dunia, beban subsidi di tahun 2027 tidak seberat 2026. Kita tahu Indeks Brent saat ini sudah ke angka 73, dari yang bulan kemarin rata-rata di atas 100. Tekanan kepada APBN sudah jauh lebih ringan, dan ini yang akan kita bawa pada asumsi makro untuk 2027," jelas Bambang di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Bambang menekankan bahwa tujuan utama parlemen dan pemerintah bukan sekadar memangkas pengeluaran uang negara. Langkah tersebut disebutnya berfokus pada pembangunan ketahanan energi nasional yang kokoh.

“Kita tidak semata-mata pada fiskalnya saja, tapi kepada kebijakan. Kebijakan yang kita lakukan ini akan saling memperkuat sehingga kombinasi daripada kebijakan pemerintah dan juga fiskal ini akan membuat beban subsidi itu ringan dan optimal untuk pelayanan, kepada masyarakat,” ujarnya.

Demi menjamin kuota subsidi tersebut dinikmati oleh kelompok yang berhak, Komisi XII DPR RI mendesak penguatan pengawasan anggaran. Ia menyatakan skema digitalisasi mutlak diperlukan untuk mengawal penyaluran di lapangan.

Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah perluasan penggunaan sistem barcode di setiap SPBU untuk pembelian Pertalite. Skema digital ini dinilai efektif menekan potensi kebocoran distribusi bahan bakar bersubsidi.

"Kita berharap barcode itu dipergunakan lebih luas sehingga kita dapat mengawasi penyaluran agar tepat sasaran. Kalau mobilnya BMW atau Alphard, malu lah dia pakai barcode mengisi di situ. Intinya, inovasi di bidang digitalisasi ini akan membantu kita memastikan bahwa BBM bersubsidi benar-benar tepat sasaran," pungkas Bambang.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai BBM, subsidi, dan APBN dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.