Periskop.id - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty menilai pemilihan lokasi bagi Lembaga Pengelola Pusat Finansial Internasional Indonesia (LP PFII) atau International Financial Center (IFC) harus dilakukan secara cermat karena akan menentukan daya saing pusat keuangan tersebut di tingkat global.

Menurut Telisa, selain kepastian hukum, regulasi yang mendukung, dan penyediaan berbagai fasilitas, aspek lokasi menjadi salah satu faktor paling krusial dalam pembentukan IFC. Ia mengingatkan pemerintah perlu belajar dari berbagai praktik terbaik (best practices) pusat finansial internasional di dunia.

"Kami mendengar dari berita bahwa lokasi ini akan ditetapkan di Bali. Nah, nanti mungkin kami ingin memberikan masukan, untuk pemilihan lokasi itu betul-betul perlu kita cermati, Bapak-Ibu, karena kita belajar dari benchmarking berbagai negara terkait dengan lokasi, ini hal yang paling penting banget ya, misalkan katanya di Bali gitu, di Bali itu contohnya, Bapak-Ibu, di Bali itu ada peraturan mengenai tinggi dari gedung, misalkan," kata Telisa dalam RDPU dengan DPR, dikutip Selasa (7/7). 

Ia juga menilai apabila Indonesia ingin mengembangkan diri sebagai pusat keuangan syariah dunia, aspek budaya dan karakteristik wilayah juga perlu menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi.

Meski demikian, Telisa menegaskan Indonesia tidak harus hanya memiliki satu pusat finansial internasional. Menurutnya, pemerintah dapat mengembangkan beberapa lokasi sekaligus dengan keunggulan yang berbeda-beda, sebagaimana diterapkan di sejumlah negara seperti China.

"Misalnya, artinya gini, karena sebetulnya Bapak-Ibu benchmarking dari berbagai daerah di dunia, itu adalah pusat finansial internasional ini, itu untuk harus mengembangkan daya saingnya, dan kemudian memang bisa dikaitkan dengan pariwisata, karena biasanya berhubungan dengan pariwisata, tapi sebetulnya boleh lebih dari satu," papar Telisa.

"Jadi memang pemilihan ini bagus sekali ya, di Bali tentu dengan wisatanya, ekspatriatnya sudah di situ, sudah punya modal, namun memang artinya tidak bisa hanya satu saja, jadi artinya boleh lebih dari satu secara lokasi, seperti itu," lanjutnya.

Alih-alih memilih Bali, justru Telisa menilai Batam merupakan salah satu lokasi yang paling potensial untuk pengembangan Lembaga Pengelola Pusat Finansial Internasional Indonesia (LP PFII) atau International Financial Center (IFC). Menurutnya, Batam memiliki keunggulan berupa ekosistem digital dan pusat data (data center) yang kuat, serta letaknya yang strategis karena berdekatan dengan Singapura.

"Jadi nanti pemilihan lokasi itu juga menjadi sangat crucial untuk dibicarakan, cuman itu sebetulnya boleh lebih dari satu, karena artinya tidak membatasi hanya kepada satu kota saja, karena masing-masing kota memiliki karakteristik dan keunggulannya, seperti itu," tutupnya.