Periskop.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai reformasi transparansi dan fundamental korporasi yang solid akan memperkuat daya tarik investasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun global.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menjelaskan, berbagai kebijakan reformasi merupakan komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, serta membangun pasar modal Indonesia yang lebih kredibel.
"Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang," ujar Jeffrey dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Menurut Jeffrey, optimisme itu tercermin dari terus bertambahnya jumlah investor domestik. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 28,9 juta.
Ia menjelaskan, investor saham dan surat berharga lainnya telah mencapai 9,9 juta SID. Jumlah tersebut meningkat 15,1% secara year to date (ytd) dibandingkan posisi akhir 2025 yang tercatat sebanyak 8,6 juta SID.
Saat ini, investor domestik menguasai 61% kepemilikan saham. Rinciannya terdiri atas investor institusi domestik sebesar 43,3% dan investor ritel sebesar 17,7%, sedangkan investor asing memiliki porsi 39,1%.
Menurut Jeffrey, dominasi investor domestik juga terlihat dari aktivitas perdagangan di BEI. Investor domestik menyumbang 65,5% dari total nilai transaksi, yang berasal dari investor ritel sebesar 52,5% dan investor institusi domestik sebesar 13%.
Jeffrey memastikan Self-Regulatory Organization (SRO) bersama dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus mempercepat reformasi yang berfokus pada peningkatan transparansi serta kualitas informasi di pasar modal.
Berbagai kebijakan yang telah disiapkan meliputi publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15%, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, serta implementasi mekanisme High Shareholding Concentration (HSC). Selain itu, keterbukaan informasi juga diperluas melalui Public Expose Live, publikasi data free float dan kepemilikan saham terkonsentrasi, serta layanan IDX Hotdesk.
Di sisi lain, Jeffrey menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 membuat valuasi pasar saham Indonesia menjadi lebih kompetitif. Per 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan pada Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali dan sebanyak 434 saham tercatat memiliki Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali.
Menurutnya, fundamental pasar modal Indonesia juga tercermin dari kinerja emiten. Dari 810 perusahaan tercatat yang telah menyampaikan laporan keuangan per 31 Maret 2026, sebanyak 595 perusahaan atau sekitar 73,46% membukukan laba bersih, sementara 221 perusahaan tercatat membagikan dividen tunai sepanjang 2026.
"Kondisi tersebut memberikan peluang bagi investor yang berorientasi pada investasi jangka panjang dan mengedepankan analisis fundamental," pungkas Jeffrey.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar