Periskop.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang memperkuat bauran kebijakan moneter. Opsi menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate terbuka apabila volatilitas rupiah kembali meningkat.
Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz menjelaskan, pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi faktor eksternal. Menurutnya, eskalasi geopolitik global dan dampaknya terhadap harga minyak dunia jadi salah satu variabel yang perlu dicermati karena bisa memengaruhi posisi transaksi berjalan Indonesia sebagai negara net importir minyak.
"Kita lihat transmisi dampaknya ke Indonesia itu utamanya dari oil price. Kalau harga minyak meningkat signifikan, maka sebagai negara net oil importer, current account kita berpotensi kembali melebar," ujar Irman usai konferensi pers HUT ke-70 Danamon, Selasa (14/7).
Kendati begitu, Irman menilai kondisi saat ini masih relatif terkendali dibandingkan periode sebelumnya. Harga minyak belum melonjak ekstrem sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar masih dapat dikelola.
Ia menyebutkan, harga minyak saat ini berada di level lebih rendah dibandingkan saat konflik sebelumnya terjadi. Kondisi tersebut membuat dampak ke Indonesia tidak sebesar yang dikhawatirkan pasar.
Di sisi lain, perbaikan harga sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) turut menopang cadangan devisa Indonesia. Kenaikan harga komoditas tersebut mendorong penerimaan ekspor yang kemudian membantu memperkuat posisi eksternal RI.
Meski demikian, BI dinilai tetap perlu menjaga stabilitas rupiah lewat berbagai instrumen kebijakan. Irman menilai intervensi pasar valas yang dilakukan BI selama ini cukup efektif meredam tekanan terhadap mata uang domestik.
Selain intervensi, ruang kenaikan suku bunga acuan juga masih terbuka jika tekanan terhadap rupiah kembali menguat. Irman memperkirakan BI masih punya ruang pengetatan hingga 50 basis poin, atau dua kali kenaikan masing-masing 25 basis poin sampai akhir 2026.
"Dengan asumsi volatilitas rupiah masih akan tertekan, kami melihat masih ada ruang kenaikan suku bunga acuan hingga dua kali 25 basis poin menuju level 6,25%. Namun, apabila kondisi global membaik, ruang tersebut tidak harus digunakan," katanya.
Keputusan BI, menurut Irman, akan sangat bergantung pada perkembangan faktor global. Terutama bila muncul kejutan baru yang kembali meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Selain faktor moneter, ia menilai stabilitas nilai tukar juga membutuhkan dukungan dari sisi fiskal. Kredibilitas kebijakan pemerintah, khususnya dalam menjaga disiplin fiskal, disebut jadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan investor terhadap aset domestik.
Sebelumnya, keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil dinilai jadi sentimen positif bagi pasar. Namun, keberlanjutan sentimen tersebut akan bergantung pada kemampuan pemerintah mengeksekusi kebijakan secara konsisten.
"Lembaga pemeringkat kini tidak lagi mempertanyakan arah kebijakan Indonesia, melainkan lebih menyoroti bagaimana pemerintah memastikan implementasi kebijakan tetap berada dalam koridor yang prudent," pungkas Irman.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar