periskop.id - Pemerintah memastikan pengiriman ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi tetap berjalan aman meski terdapat dinamika jalur perdagangan menuju kawasan Timur Tengah. Sebanyak 2.280 ton beras dilepas dalam ekspor perdana yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar di negara tersebut.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah menyiapkan pengawasan distribusi agar pengiriman beras tersebut dapat tiba dengan aman di pelabuhan tujuan. Ia menyebut kapal pengangkut beras itu akan berlabuh di Pelabuhan Jeddah, Arab Saudi.
“Insyaallah aman sampai di Jeddah,” kata Amran kepada wartawan di Perum Bulog Kanwil Jakarta dan Banten, Kamis (5/3).
Amran menjelaskan pemerintah akan terus memantau proses pengiriman hingga beras tiba di tujuan. Pengawasan dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan lancar serta meminimalkan potensi kendala di tengah situasi geopolitik global yang dapat memengaruhi jalur perdagangan internasional.
Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai kondisi jalur perdagangan menuju Timur Tengah yang disebut kerap mengalami perubahan atau penutupan sementara. Menurutnya, pemerintah tetap dapat menyesuaikan jadwal pengiriman dengan kondisi jalur pelayaran yang tersedia.
“Ya, kita masuk pada saat jalur dibuka,” ujarnya.
Selain memastikan keamanan jalur pengiriman, Amran menegaskan seluruh biaya ekspor telah disiapkan sehingga proses distribusi tidak menghadapi hambatan administratif maupun logistik.
“Biayanya sudah beres,” kata dia.
Ekspor perdana beras tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah untuk membuka peluang pasar baru bagi komoditas pangan Indonesia di luar negeri. Arab Saudi dipilih sebagai tujuan awal karena adanya kebutuhan beras bagi jamaah haji serta masyarakat Indonesia yang tinggal di negara tersebut.
Selain Arab Saudi, pemerintah juga tengah menjajaki peluang ekspor ke beberapa negara lain seperti Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing beras Indonesia di pasar internasional.
Amran menyebut ekspor dilakukan di tengah kondisi stok beras nasional yang cukup besar. Saat ini cadangan beras nasional tercatat mencapai sekitar 3,7 juta ton dan diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring panen raya yang berlangsung di sejumlah daerah.
“Stok hari ini 3,7 juta ton dan kemungkinan dua bulan ke depan stok kita mencapai 5 juta sampai 6 juta ton,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai peluang ekspor dapat dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan pasokan beras sekaligus membuka pasar baru bagi produksi dalam negeri.
Tinggalkan Komentar
Komentar