periskop.id - PT Elnusa Tbk (ELSA), perusahaan jasa energi terintegrasi, menegaskan komitmennya untuk bertransformasi menjadi low-cost operator hulu minyak dan gas bumi kelas dunia. Hal ini dilakukan di tengah dinamika industri migas yang semakin menantang pada 2026.
Direktur Utama Elnusa, Litta Ariesca, mengatakan bahwa arah baru perseroan akan difokuskan pada pengelolaan lapangan marginal—segmen yang selama ini dianggap kurang ekonomis, namun menyimpan potensi besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Kunci utamanya terletak pada efisiensi berbasis teknologi dan inovasi.
“Ke depan, kami menargetkan operasi bisa 15% hingga 20% lebih efisien, bahkan menembus 25% dibandingkan praktik migas saat ini,” ujar Litta dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (9/4).
Menurutnya, langkah tersebut diambil bukan tanpa alasan. Industri migas saat ini tengah menghadapi tingkat ketidakpastian yang tinggi, sementara pemerintah Indonesia menargetkan produksi ambisius sebesar 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFPD). Dalam konteks ini, Elnusa memposisikan diri sebagai bagian penting dalam ekosistem untuk mencapai target tersebut.
Memasuki 2026, Elnusa mengusung tema besar “Rediscover Technology and Innovation Age”, yang menjadi refleksi sekaligus dorongan untuk membangun budaya kerja yang lebih adaptif, cepat, dan efisien. Transformasi ini tidak hanya berhenti pada adopsi teknologi, tetapi juga menyasar perubahan pola pikir di seluruh lini organisasi.
“Bagi Elnusa, inovasi bukan sekadar alat, melainkan fondasi budaya kerja. Setiap insan perusahaan didorong untuk berpikir lebih cerdas, bertindak lebih aman, dan bekerja lebih efisien dalam setiap aspek operasional,” terang Litta.
Dari sisi kapabilitas, Elnusa terus memperkuat layanan hulu migas secara menyeluruh, mulai dari geoscience, survei seismik, pengeboran, hingga optimasi lapangan eksisting. Sinergi juga diperluas bersama entitas dalam grup Pertamina, termasuk Pertamina Hulu Energi dan Pertamina Technology Innovation and Infrastructure.
Salah satu gebrakan inovatifnya adalah pengembangan teknologi vibroseis untuk Enhanced Oil Recovery (EOR), yang bertujuan meningkatkan produksi dari lapangan yang sudah ada. Selain itu, Elnusa juga mengandalkan teknologi Inline Inspection (ILI) untuk menjaga keandalan jaringan pipa migas nasional sepanjang lebih dari 21.000 km.
“Dengan teknologi ini, potensi kerusakan dapat dideteksi lebih dini, sehingga memungkinkan tindakan preventif sebelum kebocoran terjadi, sekaligus menekan risiko dan biaya operasional,” sambung Litta.
Tak berhenti pada bisnis inti, Elnusa juga memperluas cakrawala usahanya. Diversifikasi dilakukan melalui pengembangan jasa survei seismik untuk sektor nonmigas hingga ekspansi ke pasar internasional. Salah satu langkah nyatanya adalah pengiriman Oil Country Tubular Goods (OCTG) ke pasar global, termasuk Aljazair, yang menandai semakin kuatnya posisi Elnusa di kancah internasional.
Seluruh langkah tersebut dirangkai dalam satu benang merah, yaitu operational excellence dan integrasi end-to-end. Dengan strategi ini, Elnusa tidak hanya memburu efisiensi, tetapi juga memastikan keberlanjutan bisnis di tengah lanskap energi yang terus berubah.
“Ke depan, kami akan terus meng-upgrade teknologi untuk memberikan kontribusi optimal terhadap target produksi nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis,” tutup Litta.
Tinggalkan Komentar
Komentar