Periskop.id – Pemanfaatan bioenergi di sektor ketenagalistrikan berpotensi membuka sekitar 150 ribu lapangan kerja dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan. Hal ini diungkapkan Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir dalam Seminar Series #3 bertajuk "Utilisasi BioEnergy di PLN untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia" di Institut Teknologi PLN, Jakarta, Kamis (4/6). 

“Kalau implementasi biomassa mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit, nilai ekonominya bisa mencapai Rp11 triliun. Reduksi emisinya sekitar 12 juta ton CO₂, dan potensi tenaga kerja yang tercipta bisa mencapai 150 ribu orang dalam tiga sampai empat tahun,” ujar Hokkop.

Advertisement

Ia menambahkan, biomassa merupakan salah satu solusi transisi energi yang dapat diterapkan secara cepat melalui program co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dengan sebagian bahan bakar fosil diganti biomassa dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, maupun limbah organik lainnya. 

“Bioenergi bukan untuk menggantikan pembangkit fosil secara total dalam waktu singkat, melainkan solusi transisi yang menurunkan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional,” jelasnya.

Hingga saat ini, PLN telah mengimplementasikan co-firing biomassa di 52 PLTU di berbagai wilayah Indonesia. Sepanjang 2025, pemanfaatan biomassa mencapai sekitar 2,35 juta ton, berkontribusi pada pengurangan emisi 2,57 juta ton CO₂ ekuivalen. 

PLN juga telah memanfaatkan 14 jenis biomassa dengan nilai kalor rata-rata 3.152 kkal/kg, seperti cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang diolah menjadi bahan bakar alternatif.

Potensi Besar Biomassa
Indonesia sendiri memiliki potensi biomassa sangat besar, mencapai 83,4 juta ton per tahun, dengan sebaran utama di Sumatera 42,8 juta ton, Kalimantan 18,9 juta ton, dan Jawa 13,1 juta ton. Namun, pemanfaatan bioenergi nasional masih rendah, dengan konsumsi per kapita 0,35 gigajoule per tahun, jauh dari potensi 6,5 gigajoule per kapita.

Selain biomassa padat, PLN EPI juga mengembangkan bioenergi berbasis biogas dan biohidrogen, termasuk pemanfaatan gas metana dari limbah cair kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME).

“Metana memiliki potensi pemanasan global lebih besar dibanding karbon dioksida. Menangkap dan mengolahnya menjadi energi tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Hokkop.

PLN EPI juga tengah mengembangkan sistem digital berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau rantai pasok biomassa dan operasional co-firing di seluruh Indonesia. Pengembangan biomassa ini diharapkan membuka peluang usaha baru di sektor hulu, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, logistik, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan.

“Transaksi bisnis biomassa nasional telah menunjukkan perkembangan positif dan menjadi peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat. Kami terus mendorong keterlibatan petani, kelompok usaha desa, koperasi, dan generasi muda dalam rantai pasok biomassa nasional,” ujar Hokkop.