Periskop.id - Penggunaan istilah dengan akhiran maxxing atau upaya melakukan sesuatu secara maksimal dalam berbagai aspek kehidupan sedang marak diadopsi oleh generasi muda saat ini. Salah satu turunan tren yang paling menarik perhatian dan tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan Gen Z adalah solo-maxxing

Fenomena ini secara sederhana menggambarkan keputusan seseorang untuk menjalani gaya hidup sendiri atau solo lifestyle dan secara sadar memilih untuk tidak berkencan ataupun membangun hubungan romantis dengan orang lain.

Advertisement

Munculnya fenomena ini memicu perdebatan di ruang publik mengenai esensi dari pilihan tersebut, apakah tren ini murni merupakan sebuah keputusan pilihan hidup yang sehat untuk mendongkrak kualitas diri, atau sebaliknya justru menjadi sekadar kedok cara untuk menghindari dinamika dunia kencan karena adanya rasa takut yang mendalam.

Secara harfiah, esensi dari solo-maxxing pada dasarnya berjalan lurus sesuai dengan namanya, yaitu komitmen penuh untuk menjalani hidup seorang diri atau dengan kata lain memilih untuk tetap konsisten berstatus lajang. 

Matthew Willner, yang merupakan seorang Psikoterapis memberikan penjelasan detailnya mengenai fenomena ini.

“Solo-maxxing adalah istilah tren untuk keputusan sadar hidup sendiri dan memfokuskan waktu serta keuangan pada diri sendiri, bukan pada hubungan. Selama beberapa dekade terakhir, tren menurunnya tingkat kemitraan dan meningkatnya jumlah orang muda yang hidup sendiri sudah terlihat jelas,” jelas Willner, seperti dikutip oleh Vice pada Selasa (2/6).

Ragam Alasan dan Tolok Ukur Kesehatan Mental di Balik Pilihan Hidup Sendiri

Di dalam realitas kehidupan sehari-hari, ada banyak sekali alasan kompleks yang mendasari keputusan seseorang untuk memantapkan diri hidup sendiri tanpa pasangan. 

Alasan-alasan tersebut bergerak variatif mulai dari pertimbangan masalah finansial yang ketat, preferensi kenyamanan gaya hidup pribadi, rasa lelah atau dating fatigue akibat proses kencan yang berulang-ulang tanpa hasil, hingga adanya rasa takut yang besar untuk kembali terluka secara emosional. 

Faktor kondisi lingkungan global yang serba tidak menentu juga dinilai ikut andil dalam mempercepat penyebaran tren melajang ini di kalangan usia produktif.

“Secara historis masuk akal bahwa di masa ketidakpastian, ketidakstabilan, dan ketidaksetaraan, lebih banyak orang memilih gaya hidup hemat dan mandiri. Bagi sebagian orang ini adalah pilihan, dan bagi sebagian lain merupakan kebutuhan,” kata Willner.

Melihat fenomena tersebut, Willner menilai bahwa aktivitas solo-maxxing pada dasarnya bisa bertransformasi menjadi sebuah pilihan gaya hidup yang sangat sehat bagi perkembangan psikologis seseorang. 

Namun, syarat utamanya adalah motivasi terdalam dari pengambilan keputusan tersebut haruslah berasal dari semangat pemberdayaan diri secara positif, bukan didasari oleh rasa takut atau trauma masa lalu yang dihindari secara terus-menerus.

“Apakah pola ini sehat atau tidak tergantung pada motivasinya. Melihat ke dalam diri dan mengeksplorasi apakah kemandirian muncul dari prioritas diri yang sehat atau dari penghindaran adalah kunci,” kata Willner. 

Berdasarkan analisisnya, orang yang mengambil keputusan solo-maxxing karena benar-benar ingin memprioritaskan kebutuhan perkembangan diri sendiri biasanya akan mampu menjelaskan motivasi mereka dengan sangat logis dan jelas. 

Mereka juga tetap bisa membayangkan masa depan yang melibatkan hubungan sosial atau romantis di kemudian hari tanpa harus merasa tertekan ataupun cemas.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kelompok individu yang memilih jalan solo-maxxing murni hanya untuk menghindari konflik atau keterikatan emosional. 

Kelompok yang kedua ini, sebagaimana penjelasan Willner, umumnya tidak akan mampu menjelaskan alasan mereka secara sehat, serta cenderung merasa bahwa ketenangan hidup yang mereka miliki saat ini sangat bergantung pada ketiadaan sebuah hubungan, bukan bersumber dari perhatian yang tulus terhadap diri sendiri.

Pendekatan Terapi untuk Menemukan Motivasi Diri yang Hakiki

Selain masalah motivasi, indikator lain yang membedakan sehat atau tidaknya tren ini dapat dilihat dari tingkat fleksibilitas sikap individu yang bersangkutan. 

Willner menambahkan bahwa sikap yang terlampau kaku dalam menolak kehadiran orang lain sebenarnya merupakan sebuah sinyal kuat bahwa aktivitas solo-maxxing yang dilakukan hanyalah sebuah tameng pertahanan diri belaka, dan bukan bentuk dari aktualisasi diri yang sejati.

Orang-orang yang menjalankan prinsip solo-maxxing secara sehat dan matang biasanya akan bersikap sangat fleksibel serta tetap memilih untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan hubungan asmara di masa depan. 

Sementara itu, mereka yang bersikap kaku dan defensif biasanya hanya sedang berusaha keras untuk menghindari ketidakpastian hidup serta potensi munculnya rasa sakit hati akibat patah cinta.

Dalam praktik penanganan klinis, apabila seorang klien terapi kedapatan berada dalam posisi dilema psikologis seperti ini, Willner biasanya akan memilih untuk menelusuri lebih jauh latar belakang sejarah kehidupan masa lalu mereka. 

Fokus penelusuran utamanya diarahkan untuk melihat apakah masa kecil individu tersebut sempat dipengaruhi oleh faktor kesulitan ekonomi keluarga, pola pengasuhan orang tua yang berubah-ubah dan tidak konsisten, atau adanya sejarah konflik rumah tangga yang sering terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.

Tujuan utama dari pelaksanaan proses konseling psikologi ini sebenarnya bukanlah untuk menghilangkan sistem proteksi atau benteng pertahanan diri klien secara total dari dunia luar. 

Fokus utamanya adalah untuk membantu klien dalam mengidentifikasi dan memetakan pola hubungan tidak sehat seperti apa yang selama ini terus berulang dan kerap menimbulkan rasa sakit di dalam hidup mereka.

Menurutnya, melalui bantuan profesional dari seorang terapis, individu tersebut bisa dibimbing untuk mengembangkan pendekatan serta strategi baru yang lebih sehat dalam berkencan tanpa harus mengisolasi diri secara ekstrem.

Di sisi lain, proses refleksi ini juga bisa membawa seseorang pada sebuah tingkat kesadaran baru yang jujur bahwa mereka memang pada dasarnya tidak terlalu membutuhkan kehadiran teman dekat atau pasangan hidup untuk merasa bahagia. 

Kedua kondisi psikologis ini, baik memilih tetap membuka hati maupun memilih hidup menyendiri, sama-sama tidak ada yang salah untuk dijalani. Namun, menurut Willner, pelibatan sesi terapi psikologi akan sangat membantu setiap individu untuk bisa memahami secara jernih apa inti motivasi yang sesungguhnya di balik keputusan solo-maxxing yang mereka ambil.

“Dari sana, seorang klien dapat memutuskan hidup mandiri karena itu yang benar-benar mereka inginkan, bukan untuk melindungi diri dari luka yang belum sembuh,” pungkasnya.