periskop.id – Seorang saksi berinisial K, yang bekerja sebagai tukang di ponpes tersebut selama sepuluh tahun (2008–2018), mengungkapkan bagaimana pelaku menggunakan doktrin spiritual sebagai tameng untuk menjerat para korbannya.
 

Menurut K, pelaku berinisial AS kerap mencitrakan dirinya sebagai sosok suci. Akibatnya, masyarakat dan pengikutnya seolah terhipnotis dan tidak berani mempertanyakan tindakan pelaku, meskipun penyimpangan sudah terlihat sejak lama.

 

"Setiap orang yang dekat dengan si pelaku itu merasa seolah-olah dia itu dekat dengan Allah. Jadi setiap saya dekat dia tuh rasanya di hati menyebut 'Allah, Allah'. Dia mengaku sebagai orang suci," kata K, di Jakarta Utara, mis (7/5).

 

K mengungkapkan, aksi bejat pelaku sebenarnya bukan rahasia baru. Pada 2008, ponpes tersebut pernah didemo oleh masyarakat terkait dugaan pelecehan terhadap wanita. Bahkan, ada dugaan korban hamil hingga dipaksa menggugurkan kandungan.

 

Saksi juga menyampaikan, pola pelaku dalam mendekati santriwati yang rata-rata masih berusia sekolah (SMA). Sejak 2010, pelaku kerap menganggap para wanita di ponpes sebagai "anaknya", tetapi disertai tindakan memutus hubungan komunikasi antara santri dengan orang tua kandung mereka.

 

"Setiap salaman itu diciumi pipi kanan-kiri, jidat, sampai bibirnya (lambe). Itu banyak yang lihat. Kalau sedang duduk juga sering dirangkul. Setiap malam di pondok, dia bergantian membawa anak-anak itu ke kamar sampai pagi," ungkap K.

 

Fakta memilukan lainnya yang diungkap saksi adalah dugaan adanya santriwati yang hamil akibat perbuatan pelaku, tetapi dinikahkan dengan pria dari luar pondok untuk menutupi aib. Namun, pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian karena sang suami menolak mengakui anak yang dilahirkan.

 

"Cowok itu tidak mau mengakui kalau itu anaknya. Dia siap tes DNA karena yakin itu bukan anaknya. Sekarang mereka sudah cerai," jelas K.

 

K menambahkan, orang tua dari santriwati tersebut biasanya bekerja di ponpes tersebut sehingga tidak berdaya melawan.
 

Pelaku juga diduga secara konsisten membawa santriwati ke kamar setiap malam dengan pola pelecehan yang serupa. K juga mengungkapkan, pada 2008, pelaku sudah pernah didemo karena pelecehan. Namun, sampai saat ini, pelaku diyakini sebagai orang suci sehingga masyarakat tetap percaya kebaikannya.
 

Akhirnya, K mengaku baru benar-benar berhenti memercayai kedok "orang suci" pelaku pada tahun 2018.