Periskop.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan alasan di balik wacana pelibatan unsur TNI dan Polri dalam pelaksanaan program-program BGN. Ia menegaskan, skema kolaborasi lintas lembaga tersebut didasari atas efisiensi anggaran dan efektivitas distribusi logistik di lapangan.
Sudaryono menjelaskan, dalam mengeksekusi program berskala besar, koordinasi bersama aparat keamanan merupakan langkah praktis demi mencapai tujuan tanpa membebankan biaya operasional pengiriman yang tinggi.
“Saya cek... Menurut saya, intinya itu sama, sama seperti di pertanian yang saya hadapi selama ini. Melibatkan semua pihak. Intinya mencapai tujuan,” kata Sudaryono di Gedung BGN, Rabu (22/7).
Ia merefleksikan pengalamannya saat membagikan puluhan ribu pompa air pertanian di musim kemarau panjang. Saat itu, ketiadaan alokasi khusus untuk ongkos pengiriman disiasati dengan memberdayakan jaringan aparat TNI dan Polri hingga ke tingkat daerah.
Sudaryono menggunakan analogi tersebut untuk menjawab pertanyaan publik mengenai urgensi keterlibatan aparat keamanan dalam mendukung eksekusi logistik.
“Lho, bagi pompa di musim paceklik kemarau ini, ada 70.000 pompa. Itu kalau kita distribusikan karena relokasi anggaran tahun 2024, khususnya, ya itu pengalaman kami dulu. Kami bagi lewat TNI dan Polri. Karena apa? Karena tidak ada anggarannya. Jadi ongkos untuk membaginya tidak ada,” tegasnya.
Sudaryono juga menyinggung dialognya dengan kalangan akademisi yang mempertanyakan peranan aparat dalam program kerja pemerintah.
“Nah, kemarin ada mahasiswa yang bertanya kepada saya, ‘Kalau begitu tentaranya dan polisinya tidak usah bantu. Nanti saya kerahkan mahasiswa tanpa gaji, mau?’ Tidak mau, kan?” ujarnya.
Di luar diskursus pelibatan aparat, Sudaryono menegaskan fokus utama BGN adalah keterlaksanaan program secara tepat sasaran. Prioritas tertinggi lembaga adalah memastikan anak-anak menerima asupan gizi yang aman sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Intinya, saya tidak ingin berkomentar lebih jauh. Semua pihak harus memastikan barang ini bisa terlaksana dengan baik. Sasarannya jelas: anak-anak cukup gizi, aman,” jelasnya.
Selain fokus pada pemenuhan nutrisi anak, Sudaryono menekankan pentingnya membangun ekosistem pendukung yang melibatkan para pelaku usaha di tingkat lokal.
“Jadi aman dan cukup gizi, serta berdampak pada ekonomi lokal. Dengan memberdayakan UMKM, petani, peternak, dan lain-lain,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sudaryono menekankan aspek krusial terkait kelayakan bahan baku makanan guna mengantisipasi risiko kontaminasi maupun kasus keracunan pangan.
Ia menegaskan, proses pengolahan yang baik harus ditopang oleh bahan baku berkualitas tinggi yang memenuhi standar keamanan.
“Dengan satu syarat: semua bahannya harus benar. Masalah standar keamanannya juga harus benar. Kita belajar dari kasus keracunan, yang selain dari cara mengolah, juga bisa berasal dari bahan baku yang tidak terstandar atau kualitasnya tidak bagus,” ucap Sudaryono.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar