Periskop.id – Beragamnya jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) dan turun naiknya kondisi ekonomi seseorang, berpotensi membuat tangki kendaraan tercampur antara BBM dengan tingkat oktan yang berbeda misalnya antara Pertamax dengan Pertalite. Pertanyaannya, amankah buat kendaraan?
Secara umum, mencampurkan Pertamax dan Pertalite dalam satu tangki umumnya tidak langsung membuat mesin kendaraan rusak. Keduanya sama-sama merupakan bahan bakar bensin tanpa timbal sehingga dapat bercampur secara alami.
Namun, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan untuk dilakukan terus-menerus. Campuran Pertalite beroktan 90 dan Pertamax beroktan 92 akan menghasilkan nilai oktan di antara keduanya, bergantung pada komposisi masing-masing bahan bakar. Apabila nilai akhirnya lebih rendah daripada kebutuhan mesin, performa dan efisiensi kendaraan berpotensi menurun.
Kebiasaan mencampur BBM kembali menjadi perhatian setelah selisih harga Pertalite dan Pertamax melebar. Per 1 Juli 2026, harga Pertalite di DKI Jakarta tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Pertamax dibanderol Rp16.250 per liter. Artinya, terdapat selisih harga Rp6.250 untuk setiap liter bahan bakar.
Sebagian pengendara kemudian mencoba mencampurkan keduanya dengan harapan memperoleh kualitas bahan bakar di atas Pertalite, tetapi tetap lebih murah dibandingkan menggunakan Pertamax sepenuhnya.
Bisa Tercampur, tetapi Tidak Direkomendasikan
Pertamina Patra Niaga mencatat Pertalite memiliki Research Octane Number atau RON 90. Sementara itu, Pertamax mempunyai RON 92. Angka oktan menunjukkan kemampuan bahan bakar menahan tekanan di dalam ruang bakar sebelum mengalami detonasi atau knocking.
Semakin tinggi rasio kompresi mesin, umumnya semakin tinggi pula angka oktan yang dibutuhkan. Karena itu, pemilihan BBM seharusnya mengikuti spesifikasi yang tercantum dalam buku manual kendaraan, bukan semata-mata berdasarkan harga atau anggapan bahwa oktan lebih tinggi selalu lebih baik.
Commercial Fuel Marketing PT Pertamina Indra Pratama sebelumnya menjelaskan, berbagai jenis bensin memang dapat bercampur di dalam tangki. Kendati demikian, pengendara tidak akan memperoleh manfaat maksimal dari masing-masing produk.
“Mencampur BBM dapat dilakukan dan akan bercampur dengan baik. Mencampurkan jenis Premium dengan Pertamax sekalipun, tetap bisa tercampur tetapi itu tidak direkomendasikan,” jelas Indra.
“Tetapi, setiap jenis BBM punya karakteristik sendiri-sendiri. Kalau ingin merasakan manfaat maksimal, tentunya jangan dicampur karena tidak akan maksimal,” tuturnya.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan karena Pertalite dan Pertamax akan mengalami reaksi kimia berbahaya ketika dicampur. Risiko justru muncul apabila nilai oktan campuran tidak sesuai dengan rancangan mesin kendaraan.
Nilai Oktan Campuran Berada di Tengah
Jika Pertalite dan Pertamax dicampurkan, nilai oktan akhirnya akan berada di antara RON 90 dan RON 92. Besarannya bergantung pada volume masing-masing bahan bakar di dalam tangki.
Sebagai contoh, semakin banyak Pertalite yang digunakan, semakin dekat nilai oktan campuran tersebut ke RON 90. Sebaliknya, semakin besar porsi Pertamax, nilai oktannya akan mendekati RON 92.
Campuran tersebut mungkin masih dapat ditoleransi oleh kendaraan yang memang diperbolehkan menggunakan RON 90. Namun, pada mesin yang mensyaratkan minimal RON 92, terutama mesin berkompresi tinggi atau menggunakan turbo, penurunan angka oktan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya knocking.
Knocking terjadi ketika pembakaran berlangsung tidak terkendali atau lebih cepat dari waktu yang semestinya. Gejalanya dapat berupa suara ngelitik, tenaga menurun, respons mesin melemah, atau konsumsi BBM menjadi kurang efisien.
Jika berlangsung berulang dalam jangka panjang, knocking dapat menambah beban kerja mesin dan berisiko merusak komponen di ruang bakar. Namun, kerusakan tersebut lebih berkaitan dengan penggunaan oktan di bawah rekomendasi mesin, bukan semata-mata karena dua produk bensin dicampurkan.
Manfaat Aditif Bisa Tidak Maksimal
Masing-masing jenis BBM dikembangkan dengan spesifikasi dan paket zat aditif yang berbeda. Pertamax, misalnya, dipasarkan sebagai bahan bakar beroktan lebih tinggi dengan formula yang dirancang untuk mendukung kebersihan mesin dan kualitas pembakaran.
Ketika dicampurkan dengan bahan bakar beroktan lebih rendah, konsentrasi zat aditif tersebut ikut berubah. Akibatnya, manfaat yang seharusnya diperoleh dari penggunaan Pertamax secara penuh kemungkinan tidak dapat dirasakan secara maksimal.
Auto2000 juga menyatakan pencampuran Pertamax dan Pertalite belum tentu membuat konsumsi BBM menjadi lebih hemat. Jika mesin membutuhkan RON lebih tinggi, penggunaan campuran dengan oktan lebih rendah justru dapat membuat pembakaran kurang optimal.
Karena itu, mencampurkan kedua bahan bakar untuk menghemat biaya belum tentu memberikan keuntungan. Pengendara tetap membayar lebih mahal daripada menggunakan Pertalite sepenuhnya, tetapi tidak memperoleh seluruh manfaat Pertamax.
Tidak Perlu Panik jika Tercampur Sekali
Pengendara tidak perlu langsung menguras tangki apabila Pertamax dan Pertalite tercampur satu atau dua kali, misalnya karena ketersediaan BBM terbatas ketika melakukan perjalanan. Pencampuran sesekali umumnya masih dapat ditoleransi selama nilai oktan akhirnya tidak jauh di bawah kebutuhan mesin.
Auto2000 menyebut tidak ada keharusan mengosongkan tangki sepenuhnya ketika beralih dari Pertalite ke Pertamax atau sebaliknya. Hal terpenting adalah memastikan bahan bakar yang digunakan masih sesuai dengan spesifikasi mesin.
Meski begitu, apabila ingin berpindah jenis BBM dan merasakan manfaatnya secara konsisten, pengendara dapat menunggu hingga isi tangki hampir habis sebelum mengisi bahan bakar baru. Cara tersebut membuat komposisi BBM lebih stabil dan memudahkan pengemudi menilai perubahan performa maupun konsumsi bahan bakar.
Pengendara juga perlu memperhatikan gejala setelah mengganti BBM, seperti mesin menggelitik, akselerasi terasa berat, konsumsi BBM meningkat, atau lampu peringatan mesin menyala. Jika gejala tersebut terus muncul, kendaraan sebaiknya diperiksa di bengkel.
Pada akhirnya, mencampurkan Pertamax dan Pertalite bukan tindakan yang serta-merta merusak kendaraan. Namun, kebiasaan itu tidak disarankan sebagai strategi penghematan jangka panjang karena nilai oktan serta manfaat aditif yang diperoleh menjadi tidak pasti.
Menggunakan satu jenis BBM dengan angka oktan sesuai rekomendasi pabrikan tetap menjadi pilihan paling aman untuk menjaga pembakaran, performa, efisiensi, dan usia pakai mesin.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar