Periskop.id - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, pihaknya tidak menginginkan gencatan senjata, tetapi penghentian perang secara total serta jaminan bebas dari serangan di masa depan dan kompensasi.
Kepada Al Jazeera pada Selasa (31/3), ia mengatakan, kontak dengan AS bukanlah negosiasi, melainkan pertukaran pesan, baik secara langsung maupun lewat perantara di kawasan.
Araghchi menyebutkan ia terus menerima pesan dari utusan AS Steve Witkoff. Tetapi ia menegaskan, hal itu tidak boleh diartikan sebagai negosiasi formal.
Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui kementerian luar negeri. Termasuk komunikasi terbatas di antara badan keamanan, tanpa adanya pembicaraan dengan pihak tertentu di dalam negeri.
Ia menambahkan, pertukaran pesan berlangsung dalam kerangka resmi pemerintah di bawah pengawasan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Menurut Araghchi, pesan tersebut mencakup peringatan dan pandangan bersama yang disampaikan melalui saluran tertentu.
Menanggapi laporan Iran telah merespons 15 usulan AS, ia mengatakan belum ada tanggapan yang dikirim. Ia menyebut, Iran belum mengajukan usulan maupun syarat apa pun.
Araghchi menegaskan belum ada keputusan terkait negosiasi dan menekankan, rakyat Iran tidak bisa diancam. Ia juga meminta Presiden AS Donald Trump untuk berbicara dengan hormat.
Terkait keamanan maritim, Menlu Iran itu mengatakan Selat Hormuz sepenuhnya tetap terbuka dan hanya dibatasi bagi pihak-pihak yang melakukan permusuhan terhadap Iran. Ia menambahkan, langkah-langkah telah diambil untuk menjamin agar jalur pelayaran itu aman bagi kapal-kapal negara sahabat.
Tarik Pasukan
Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan, pasukan AS akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga pekan. Hal ini menandai berakhirnya serangan terhadap negara itu.
"Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya," kata Trump kepada wartawan, Selasa (31/3).
"Kami akan segera pergi," katanya, seraya menambahkan hal itu akan terjadi dalam "mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu," serunya.
"Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melalui Selat (Hormuz). Mereka akan mampu membela diri sendiri. Saya pikir itu akan sangat aman, tetapi kami tak ada hubungannya dengan itu," katanya.
Seperti diketahui, AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang hingga kini menewaskan lebih dari 1.340 orang, menurut pemerintah Iran. Kemudian, Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah wilayah yang menampung aset militer AS di negara-negara Teluk.
Menurut data resmi AS, sedikitnya 13 prajurit mereka telah tewas sejak perang dimulai. Konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global.
Trump mengeklaim, tujuan pemerintahan AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir telah tercapai. "Mereka tak akan memiliki senjata nuklir. Dan tujuan itu telah tercapai," serunya.
Serangan AS sangat melemahkan kemampuan militer Iran, kata Trump, seraya menambahkan, Iran memerlukan '15 hingga 20 tahun" untuk membangun lagi kekuatannya.
"Jika mereka datang ke meja perundingan, itu bagus. Tetapi tak masalah mereka datang atau tidak, kami telah membuat mereka mundur," cetusnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar