Periskop.id - Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan ,unggahan kontroversial Presiden Donald Trump yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus Kristus hanyalah candaan.
"Menurut saya, presiden mengunggah sebuah candaan, dan tentu saja ia menghapusnya karena menyadari banyak orang tak memahami leluconnya," kata Vance dalam wawancara dengan Fox News, dikutip Selasa (14/4).
Ia menambahkan, Trump kerap berkreasi di media sosial dan berkomunikasi langsung dengan publik. "Saya justru melihat itu sebagai hal yang baik dari presiden, yaitu ia tidak disaring. Ia tidak menyatakan semua hal melalui ahli komunikasi. Ia benar-benar menjangkau masyarakat secara langsung," ujar Vance.
Trump pada Senin menghapus unggahan tersebut dari platform media sosial miliknya, Truth Social, yang memuat gambar hasil kecerdasan buatan. Tindakan Trump itu muncul di tengah perselisihannya dengan Paus Leo XIV sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari.
Trump pun membela unggahannya itu. "Saya memang mengunggahnya, dan dalam pandangan saya, itu menggambarkan saya sebagai dokter dan berkaitan dengan Palang Merah, ada petugas Palang Merah di sana yang kami dukung. Hanya media penyebar berita palsu yang bisa memelintir hal semacam itu," tuturnya.
Vance juga menyebut adanya perbedaan pandangan dengan Vatikan. "Kami menghormati Paus dan memiliki hubungan baik dengan Vatikan, tetapi perbedaan pendapat dalam isu substansial adalah hal yang wajar," serunya.
Ia menambahkan Vatikan sebaiknya fokus pada isu moral dan urusan internal Gereja Katolik. "Sedangkan Presiden Amerika Serikat menjalankan kebijakan publik," imbuhnya.
Konfrontasi dengan Paus
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam Paus Leo XIV karena mengkritik tindakan AS di Iran. Ia bahkan mengatakan, dia tidak memerlukan seorang paus yang menentang kebijakannya.
Paus Leo XIV memang sempat menyebut ancaman AS terhadap rakyat Iran tidak dapat diterima. Pada awal April lalu, setelah Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth menyerukan doa bagi para tentara AS, Paus Leo mengatakan dalam sebuah homily, keinginan untuk mendominasi sesuatu itu tidak sejalan dengan ajaran Yesus Kristus.
"Saya tidak ingin seorang Paus berpikir bahwa baik-baik saja jika Iran memiliki senjata nuklir.,” ujar Trump.
Ia juga mengatakan tidak ingin seorang Paus menganggap Amerika mengerikan, karena menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan narkoba besar-besaran ke AS. Bahkan yang lebih buruk lagi mengosongkan penjara mereka, termasuk mengirimkan para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke AS.
“Saya tidak ingin ada seorang Paus yang mengkritik presiden Amerika Serikat, karena saya melakukan persis apa yang menjadi tujuan saya dipilih (menjadi presiden) dengan kemenangan telak," kata Trump di TruthSocial.
Dia juga menyatakan, Paus Leo XIV tidak akan berada di Vatikan, jika Trump tidak berada di Gedung Putih. Trump juga meminta Paus untuk berhenti ‘menjilat’ kelompok kiri radikal dan fokus saja menjadi Paus yang hebat, bukan politikus.
Merespon hal ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pun mengutuk penghinaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ditujukan kepada Paus Leo XIV. Melalui unggahan di media sosial X, Senin (13/4), Pezeshkian menyatakan, penodaan terhadap “Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan” tidak dapat diterima oleh siapa pun.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengkritik pernyataan Trump. “Di era ketika gemuruh bom dan hiruk pikuk para panglima perang dan penjajah membebani hati nurani dunia, kata-kata Paus Leo XIV menggemakan seruan mendalam Injil: ‘Berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian’,” kata juru bicara kementerian Esmail Baghaei di X.
Baghaei menegaskan, menghina Paus merupakan ‘serangan terang-terangan terhadap advokasi yang bertanggungjawab untuk perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan’.
Tinggalkan Komentar
Komentar