Periskop.id - Harga minyak dunia melambung tajam pada Kamis, 23 Juli 2026, menyusul serangan terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Harga minyak Brent naik sekitar 7% dan menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 26 Mei, sementara WTI menguat 6%.

Brent ditutup di level US$100,69 per barel, sedangkan WTI berakhir di US$92,19. Lonjakan ini terjadi setelah Houthi, kelompok bersenjata di Yaman yang disokong Iran, mengklaim menargetkan dua kapal tanker Saudi dengan drone dan rudal karena dianggap melanggar blokade maritim yang mereka nyatakan terhadap Riyadh.

Eskalasi kian memanas usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serangan besar terhadap Iran. "Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kita semua sudah siap," kata Trump dalam wawancara dengan Axios, Kamis (23/7).

Trump menyebutkan, pihaknya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Ancaman itu muncul setelah ia sebelumnya memperingatkan AS akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.

Iran tak tinggal diam. Teheran memperingatkan akan membalas dengan menyerang infrastruktur dan aset energi milik AS di kawasan tersebut jika Washington benar-benar melancarkan serangan.

"Jika Amerika menargetkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, Iran akan, pada gilirannya, menyerang infrastruktur dan jembatan di wilayah tersebut, termasuk fasilitas energi tempat Amerika Serikat memiliki kepentingan," kata seorang sumber militer Iran yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Tasnim.

Global Head of Commodity Strategy RBC Capital Markets Helima Croft menilai, konflik antara AS dan Iran telah memasuki fase yang lebih berbahaya. Menurutnya, pertempuran kini menyebar hingga ke Laut Merah, sementara Iran turut menyasar infrastruktur penting di Teluk seperti pabrik desalinasi air.

Croft memprediksi, tekanan ekstrem yang meningkat di Timur Tengah berpotensi mendorong harga Brent melampaui level tertinggi 2022 di kisaran US$128 per barel, rekor yang tercipta usai invasi Rusia ke Ukraina. Dalam skenario terburuk berupa perang regional skala penuh, ia bahkan memperkirakan Brent dapat melewati puncak 2008 sebesar US$146 per barel.

Konflik Rusia-Ukraina turut menambah tekanan pada pasar minyak global. "Kyiv telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker di Laut Hitam dan Laut Azov bulan ini," ujar Croft.

Serangan terhadap kapal-kapal tanker itu memaksa Konsorsium Pipa Kaspia menghentikan pemuatan minyak mentah di terminal Laut Hitamnya. Croft menerangkan, sekitar 80% minyak mentah Kazakhstan diekspor lewat jalur pipa tersebut.

Harga minyak dunia tercatat melonjak lebih dari 30% sepanjang bulan ini seiring meningkatnya kembali pertempuran di Timur Tengah.

"Durasi penutupan masih belum pasti, tetapi jalur alternatif untuk Kazakhstan terbatas dan kemungkinan tidak akan sepenuhnya mengimbangi CPC, yang berarti produksi 1,7 mb/d pada Juni dapat mengalami penghentian sementara," kata Croft.