Periskop.id – Ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Iran menegaskan akan menanggapi setiap agresi Israel terhadap Lebanon dan negara itu secara tegas, sementara Israel menutup semua akses penyeberangan ke Gaza menyusul serangan rudal Iran.

“Setiap tindakan provokatif dan agresif yang dilakukan rezim Zionis terhadap Lebanon maupun Republik Islam Iran akan dihadapi dengan respons yang tegas, menyeluruh, dan menghancurkan dari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran,” ungkap penyataan Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Senin (8/6). 

Advertisement

Pernyataan itu menegaskan bahwa militer Iran telah melancarkan serangan terhadap sasaran di utara Palestina pada 7 Juni 2026, sebagai bagian dari hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB. "

Angkatan Bersenjata Iran pada Ahad malam, 7 Juni 2026, dalam pelaksanaan hak inheren untuk membela diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB, telah menyerang sejumlah sasaran militer di wilayah utara Palestina yang dijajah," tambah pernyataan tersebut.

Langkah Iran juga merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata pada 8 April 2026 serta serangkaian serangan Israel terhadap wilayah selatan Iran yang melibatkan kerja sama militer AS. 

“Ini adalah tindakan tegas untuk mempertahankan keamanan dan kepentingan nasional,” tegas Kedubes Iran.

Tutup Akses ke Gaza
Sementara itu, Israel melalui unit COGAT Kementerian Pertahanan menutup semua penyeberangan ke Gaza, termasuk Kerem Shalom dan Rafah, menghentikan distribusi bantuan kemanusiaan hingga pemberitahuan lebih lanjut, menyusul serangan rudal balistik Iran. Israel mengklaim, penutupan ini tidak akan memengaruhi kebutuhan gizi warga Gaza yang disebut telah terpenuhi melebihi standar PBB.

Namun, kelompok Palestina dan lembaga internasional menegaskan kondisi kelaparan dan kekurangan medis di Gaza kian memburuk. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak Oktober 2023, hampir 73.000 warga Palestina tewas dan 173.000 lainnya luka-luka, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Meskipun gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025, serangan Israel masih menewaskan 961 warga Palestina dan melukai 3.020 lainnya hingga kini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui OCHA sebelumnya memperingatkan, pemutusan akses bantuan dan kekurangan dana membahayakan lebih dari 2,1 juta penduduk Gaza yang masih mengungsi dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan. Di sisi lain, Lebanon juga terus menghadapi serangan Israel di selatan, dengan korban tewas mencapai ribuan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun sendiri mengutuk agresi tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Perdana Menteri Nawaf Salam menekankan, tindakan itu merupakan kejahatan terhadap rakyat Lebanon. 

UNIFIL pun menilai, insiden ini melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang mengakhiri perang 2006 antara Israel dan Hizbullah, dan menyerukan penghentian permusuhan serta perlindungan integritas teritorial Lebanon.

Situasi yang kian memanas ini menandai eskalasi risiko di wilayah Timur Tengah, dengan potensi dampak serius bagi stabilitas regional dan keamanan warga sipil di Lebanon dan Jalur Gaza.