Periskop.id - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai program B50 membuat prospek industri kelapa sawit Indonesia semakin cerah. Ia menyebut sawit memiliki potensi besar untuk dihilirisasi menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.

Menurutnya, kelapa sawit tidak hanya berperan sebagai bahan baku energi, tetapi juga berpotensi dikembangkan ke sektor farmasi, pangan, dan berbagai industri lainnya. Potensi tersebut dinilai dapat memperluas kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional.

“Menurut saya prospek sawit sangat cerah apalagi produk turunan sawit lebih dari 200 jenis. Tidak hanya bisa diolah menjadi energi tapi juga farmasi, makanan, dan lain-lain,” ujar Esther saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Esther menilai Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mempercepat hilirisasi sawit melalui pengembangan beragam produk turunan. Namun, ia menekankan upaya tersebut harus diikuti dengan pembangunan ekosistem industri yang kuat.

Menurutnya, penguatan ekosistem industri menjadi faktor utama agar produk turunan sawit Indonesia memiliki daya saing lebih tinggi di pasar internasional. Langkah itu juga dinilai penting untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Esther menjelaskan, strategi ekspor ke depan tidak bisa hanya bergantung pada penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Menurutnya, Indonesia perlu meningkatkan produksi barang olahan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Ia mencontohkan produk turunan seperti sabun, deterjen, biodiesel, hingga pelumas memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Produk-produk tersebut dinilai mampu memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan industri sawit nasional.

Selain mendorong hilirisasi, Esther mengingatkan pelaku industri agar memperhatikan standar mutu dalam proses produksi. Menurutnya, kualitas produk menjadi salah satu kunci untuk menembus pasar global.

Ia menjelaskan, produk turunan sawit yang masuk ke sektor pangan dan kosmetik harus memenuhi ketentuan keamanan serta prinsip keberlanjutan yang berlaku di negara tujuan ekspor. Kepatuhan terhadap regulasi perdagangan internasional juga disebut menjadi syarat penting untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

“Indonesia punya peluang besar untuk terus menghilirisasikan sawit menjadi berbagai produk turunan sawit. Tapi paling penting adalah membangun ekosistemnya,” tutup Esther.