Periskop.id - Angkatan Darat Iran menyerang sistem rudal HIMARS milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Camp Arifjan, Kuwait. Serangan menggunakan rudal permukaan-ke-permukaan itu terjadi pada Selasa (21/7).

Militer Iran menyebutkan, aksi tersebut merupakan bagian dari fase ke-18 Operasi Thunder. Operasi ini digelar sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap Iran selama sepuluh hari terakhir.

"Pasukan darat Angkatan Darat menargetkan sistem rudal HIMARS milik tentara AS yang ditempatkan di Pangkalan Arifjan di Kuwait dengan rudal permukaan-ke-permukaan," demikian pernyataan pejabat hubungan masyarakat Angkatan Darat Iran yang dikutip kantor berita IRNA dan disiarkan stasiun televisi pemerintah IRIB, Selasa (21/7).

Laporan soal serangan ini turut dikutip kantor berita Anadolu Agency dari IRNA, kantor berita resmi pemerintah Iran.

HIMARS merupakan sistem peluncur roket bergerak milik AS yang dirancang untuk berpindah cepat sebelum menghantam sasaran darat. Sistem ini kerap ditempatkan di pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk Camp Arifjan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebutkan, konflik antara Iran dan AS yang kembali memanas dalam sepuluh hari terakhir telah berkembang menjadi "perang berskala penuh".

Camp Arifjan terletak di selatan Kota Kuwait. Pangkalan ini menampung personel dari Angkatan Udara AS (US Air Force), Angkatan Laut AS (US Navy), Korps Marinir AS (US Marine Corps), dan Penjaga Pantai AS (US Coast Guard).

Eskalasi ini terjadi meski Iran dan AS sempat menyepakati gencatan senjata. Kedua negara bahkan telah meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang pada akhir Juni lalu.

Militer Iran meyakini, penargetan sistem HIMARS turut berdampak pada kekuatan serangan balik AS di kawasan Teluk. Klaim ini menjadi bagian dari narasi resmi yang disampaikan lewat siaran IRIB.

"Menargetkan sistem ini akan melemahkan kemampuan ofensif dan defensif musuh serta mengurangi kekuatan rudalnya dalam melancarkan aksi agresi," demikian pernyataan militer Iran.