Periskop.id – Iran mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur Amerika Serikat di Timur Tengah apabila Washington merealisasikan rencana membombardir jembatan, pembangkit listrik, dan fasilitas strategis lain di wilayah Iran. Ancaman itu muncul ketika konflik kedua negara kembali memanas dan lalu lintas di Selat Hormuz semakin terganggu.
Juru Bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari mengatakan ,angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan respons yang lebih luas jika serangan AS berlanjut.
"Jika AS melaksanakan rencananya untuk menyerang infrastruktur Iran, maka segala sesuatu yang masih utuh, yakni seluruh infrastruktur di kawasan tersebut, akan menjadi sasaran serangan dahsyat oleh angkatan bersenjata Iran," kata Komando Militer Iran seperti dikutip televisi dan radio milik Pemerintah Iran, Kamis (16/7).
Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan terhadap fasilitas militer AS. Reuters melaporkan Iran mengancam menjadikan berbagai infrastruktur strategis di kawasan Teluk sebagai sasaran, apabila Presiden AS Donald Trump menjalankan rencananya menyerang fasilitas sipil dan energi Iran. Tehran juga mengingatkan negara-negara tetangga agar tidak menyediakan wilayahnya untuk melancarkan operasi militer AS.
Militer Iran pada saat yang sama menyebut Selat Hormuz sebagai garis merah yang tidak dapat diganggu pihak asing. Tehran menegaskan tidak akan membiarkan Washington mengambil alih kendali jalur pelayaran strategis tersebut.
Pemerintah AS sebelumnya menuntut Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial serta membuka seluruh jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa pungutan. Washington menyatakan langkah militer akan tetap menjadi pilihan apabila aktivitas yang dianggap mengganggu kebebasan navigasi terus berlangsung.
Trump pada Rabu, 15 Juli 2026, mengatakan tidak ingin menetapkan tenggat baru bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan. Namun, ia kembali mengancam akan menghantam jembatan dan pembangkit listrik Iran apabila tidak ada perkembangan dalam proses diplomasi.
Di tengah ancaman tersebut, Trump masih menyebut kesepakatan damai mungkin dicapai. Namun, belum ada tanda terobosan setelah gencatan senjata sementara yang disepakati pada Juni 2026 kembali goyah.
Serangan AS dan Iran Terus Meluas
Ketegangan kembali meningkat sejak militer AS melancarkan gelombang serangan baru pada 8 Juli 2026. Washington menyatakan operasi tersebut menyasar pertahanan pantai, radar, fasilitas rudal, dan kemampuan militer Iran yang dituding mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.
AS kemudian memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran dan memperluas serangan hingga wilayah sekitar Tehran serta sejumlah provinsi di bagian utara negara tersebut. Komando Pusat AS menyebut puluhan sasaran dihantam dalam operasi yang berlangsung selama beberapa jam.
Iran membalas dengan menembakkan rudal dan pesawat nirawak ke lokasi yang disebut sebagai fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Militer Iran mengklaim menyerang Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania serta fasilitas komunikasi, radar, dan dermaga militer di Kuwait.
Bahrain menyatakan sistem pertahanannya berhasil mencegat sejumlah serangan udara Iran. Kuwait juga melaporkan adanya ancaman pesawat nirawak, sedangkan belum terdapat konfirmasi independen mengenai besarnya kerusakan fasilitas militer yang diklaim menjadi sasaran.
Associated Press melaporkan serangan AS pada Kamis telah menjangkau kawasan sekitar ibu kota Iran untuk pertama kalinya dalam fase konflik terbaru. Militer AS juga menembak sebuah kapal tanker yang dituduh berusaha menembus blokade menuju terminal ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg.
Selat Hormuz Jadi Titik Paling Krusial
Eskalasi AS dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting. Data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2024, setara sekitar 20% konsumsi minyak dan produk petroleum global.
Sekitar seperlima perdagangan LNG global juga melewati Selat Hormuz, terutama pasokan dari Qatar. Sebanyak 84% minyak mentah dan kondensat serta 83% LNG yang melintasi jalur tersebut pada 2024 dikirim ke pasar Asia. Kondisi itu membuat negara-negara Asia berpotensi terkena dampak besar apabila gangguan berlangsung lama.
Aktivitas pelayaran mulai menurun setelah blokade diberlakukan kembali. Reuters mencatat hanya tujuh kapal melewati Selat Hormuz pada Rabu, turun dari 13 kapal sehari sebelumnya.
Harga minyak Brent berada di sekitar US$84,37 per barel pada perdagangan Kamis, sedangkan West Texas Intermediate berada di level US$79,42. Keduanya masih bergerak mendekati posisi tertinggi dalam satu bulan karena pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Ancaman Iran terhadap infrastruktur regional menunjukkan konflik tidak lagi terbatas pada wilayah kedua negara. Tanpa kesepakatan mengenai pelayaran di Selat Hormuz dan penghentian serangan, bentrokan tersebut berisiko meluas ke negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS sekaligus mengganggu jalur energi dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar