Periskop.id - TNI Angkatan Udara (TNI AU) memastikan pembangunan fasilitas pendukung pesawat tempur Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, terus berjalan seiring bertambahnya armada jet tempur generasi 4.5 asal Prancis tersebut di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari percepatan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) nasional yang tengah didorong pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Komandan Skadron 12 Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel mengatakan, pembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung operasional hingga 42 unit pesawat tempur Rafale yang akan dimiliki TNI AU secara bertahap. Fasilitas yang dibangun meliputi hanggar, pusat perawatan mesin, hingga perangkat teknis penunjang operasional pesawat tempur multirole tersebut.
“Sambil berjalan tentunya bangfas (bangunan dan fasilitas) yang ada sesuai dengan kalender pembangunan yang ada, tetap masih berjalan sesuai dengan jadwal,” kata Binggi, Senin (18/5).
Menurut dia, sebagian fasilitas pendukung Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin sudah mulai beroperasi untuk mendukung enam unit Rafale yang telah tiba di Indonesia. Skadron 12 sendiri menjadi salah satu skuadron utama Rafale TNI AU. Saat ini skuadron tersebut telah memiliki delapan penerbang tempur yang disiapkan khusus untuk mengoperasikan jet tempur buatan Dassault Aviation tersebut.
TNI AU juga memastikan program pelatihan pilot Rafale masih berlangsung dan akan terus dilakukan hingga seluruh armada tiba di Indonesia. “Pelatihan penyiapan sumber daya manusia sedang berjalan dan terus berjalan hingga seluruh pesawat datang,” kata Komandan Skadron 12 Letkol Pnb Binggi "Rayden" Nobel saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin.
Seleksi Ketat
Binggi menjelaskan, para penerbang Rafale dipilih melalui proses seleksi ketat dengan syarat memiliki jam terbang tinggi sebagai pilot pesawat tempur. Selain mempelajari materi teknis dan simulasi operasional di dalam negeri, sejumlah pilot juga dikirim langsung ke Prancis untuk menjalani program pelatihan konversi.
“Saat ini kita dari yang sudah ada adalah memiliki delapan penerbang, yang di mana delapan ini, empat di antaranya sedang melaksanakan program konversi (latihan),” jelas Binggi.
Ia menegaskan, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam pengoperasian jet tempur modern tersebut. “Kesiapan pilot, teknisi dan dan elemen pendukung lainnya sangat krusial dalam pengawakan dan pengoperasionalan Skadron Pesawat MRCA Rafale,” tuturnya.
Penguatan armada Rafale juga mendapat perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto. Presiden meninjau 11 alutsista baru milik TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin.
Dalam agenda tersebut, Prabowo melakukan seremoni penyiraman pesawat Rafale menggunakan air kendi sebelum menyerahkan simbolis kunci pesawat kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto yang kemudian diteruskan kepada Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono.
Selain Rafale, Presiden juga meninjau radar Ground Control Intercept (GCI) GM403, rudal Meteor, Smart Weapon Hammer, hingga empat unit pesawat Falcon 8X yang dipersiapkan memperkuat kemampuan pengawasan dan mobilitas udara nasional.
Rafale sendiri merupakan pesawat tempur multirole generasi 4.5 yang mampu menjalankan berbagai misi mulai dari superioritas udara, serangan darat, pengintaian, hingga perang elektronik. Jet tempur ini juga dikenal memiliki kemampuan membawa rudal jarak jauh Meteor yang menjadi salah satu sistem persenjataan udara paling modern saat ini.
Indonesia sebelumnya menandatangani kontrak pembelian 42 unit Rafale dari Prancis sebagai bagian dari modernisasi pertahanan udara nasional. Selain Rafale, pemerintah juga tengah memperkuat armada udara melalui pengadaan pesawat angkut, radar pertahanan, hingga sistem persenjataan terpadu lainnya.
Modernisasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat postur pertahanan Indonesia di tengah meningkatnya dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik serta kebutuhan menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar