Periskop.id - Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon sepakat memulai negosiasi langsung, setelah pertemuan trilateral di Washington, Selasa (14/4), menurut pernyataan Departemen Luar Negeri (Deplu) AS. Pertemuan tersebut dipimpin Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio serta dihadiri Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh dan Duta Besar Israel Yechiel Leiter.
"Semua pihak sepakat menggelar negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati," kata juru bicara Deplu AS Tommy Pigott.
Ia mengatakan AS berharap negosiasi itu menghasilkan kesepakatan yang lebih luas daripada kesepakatan 2024 dan perjanjian damai yang komprehensif. "Amerika Serikat menegaskan kesepakatan untuk menghentikan permusuhan harus dicapai kedua pihak dengan mediasi AS, bukan melalui jalur terpisah," kata Pigott.
Israel "menyatakan dukungan" untuk melucuti kelompok bersenjata non-negara dan menghancurkan infrastruktur militan di Lebanon, menurut pernyataan itu. Sedangkan Lebanon menekankan pentingnya implementasi penuh kesepakatan November 2024, serta menyerukan gencatan senjata dan penanganan krisis kemanusiaan.
Pembicaraan tersebut merupakan kontak diplomatik langsung pertama selama lebih dari 30 tahun dan berlangsung di tengah serangan Israel di Lebanon selatan sejak 2 Maret. Menurut otoritas kesehatan Lebanon, serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 2.089 orang dan memaksa lebih dari 1 juta lainnya mengungsi.
Rubio mengatakan, pembicaraan ini merupakan awal dari proses menuju perdamaian jangka panjang. Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh menyebut pembicaraan tersebut berlangsung konstruktif.
"Kami menegaskan integritas wilayah dan kedaulatan penuh negara serta menyerukan gencatan senjata dan kembalinya pengungsi," katanya.
Namun, kelompok Hizbullah Lebanon menentang negosiasi tersebut dan menyebutnya sebagai hal yang "sia-sia."
Ciptakan Perubahan
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, pembicaraan antara Israel dan Lebanon harus menciptakan kondisi untuk perubahan, dalam cara pihak-pihak yang bertikai mengembangkan aktivitas mereka.
"Saya percaya bahwa tidak ada yang mengharapkan pembicaraan hari ini akan menyelesaikan semua masalah, tetapi saya pikir akan sangat penting jika pembicaraan ini menciptakan kondisi untuk perubahan dalam cara para pihak mengembangkan aktivitas mereka sampai sekarang," kata Guterres.
Menurut dia, gerakan Hizbullah di Lebanon dan Israel, selalu saling membantu untuk menggoyahkan pemerintah Lebanon.
"Setiap kali Israel menduduki sebagian wilayah Lebanon, itu adalah dalih yang digunakan Hizbullah untuk mengatakan 'Kita tidak bisa melucuti senjata. Kita harus mempertahankan perlawanan’. Setiap kali Hizbullah mengirimkan roket ke Israel, bahkan setelah berjanji tidak akan melakukannya, Israel segera menggunakan dalih itu untuk operasi besar-besaran terhadap Lebanon," ujar Guterres.
Sementara itu, pemerintah Lebanon berkomitmen pada integritas teritorial Lebanon di satu sisi dan pada monopoli penggunaan kekuatan di sisi lain—yang berarti pelucutan senjata Hizbullah, ujarnya.
"Jadi sudah saatnya Israel dan Lebanon bekerja sama, alih-alih Lebanon menjadi korban dari tindakan negatif, saya katakan, konjugasi negatif dari tindakan Hizbullah dan Israel," tuturnya.
Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh-Moawad bertemu di Washington pada Selasa, untuk membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian, di tengah serangan militer Israel yang sedang berlangsung di Lebanon.
Eskalasi antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 2 Maret, ketika gerakan Lebanon tersebut melanjutkan serangan roket ke wilayah Israel di tengah serangan AS-Israel melawan Iran.
Sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan skala besar ke Lebanon, termasuk wilayah selatan, Lembah Beqaa, dan pinggiran Kota Beirut. Pada 16 Maret, militer Israel secara resmi mengumumkan peluncuran operasi darat di Lebanon selatan.
Setelah pengumuman gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan AS pekan lalu, Hizbullah menangguhkan operasinya terhadap Israel. Operasi tempur gerakan tersebut dilanjutkan, Kamis (9/4) setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Beirut dan kota-kota di Lebanon selatan pada Rabu (8/4).
Tinggalkan Komentar
Komentar