periskop.id - Gubernur Jakarta Pramono Anung memberikan jaminan bahwa ketersediaan kebutuhan pokok di Jakarta tetap aman di tengah memanasnya eskalasi global. Meskipun penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) berpotensi mengganggu rantai pasok dunia, stok pangan Jakarta dipastikan mencukupi hingga hari raya Idulfitri 2026.

Pramono mengakui, penutupan jalur laut strategis tersebut akan memberikan tekanan ekonomi secara global yang turut dirasakan oleh Jakarta. Selat Hormuz merupakan rute utama perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, di mana seperlima ekspor minyak dunia melintasi wilayah tersebut.

“Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang, dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” kata Pramono di Jakarta, Minggu (1/3).

Meskipun terdapat risiko kenaikan harga pada barang-barang impor dan energi, Pramono meminta warga Jakarta untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan panik. Fokus utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta saat ini adalah menjaga kestabilan ketersediaan bahan pangan utama bagi masyarakat.

“Kami meminta warga Jakarta untuk tidak panik karena perhatian utama pemerintah daerah adalah ketersediaan kebutuhan pokok, terlebih dalam waktu dekat masyarakat akan memasuki Idulfitri,” jelasnya.

Pramono merinci, komoditas utama yang menjadi perhatian khusus meliputi cabai merah, daging, dan beras. Ia memastikan, stok ketiga bahan pokok tersebut saat ini berada dalam kondisi sangat aman dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.

Selain memastikan stok, Pemprov Jakarta melalui dinas terkait terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan harga di pasar-pasar utama serta laju inflasi daerah. Langkah antisipatif disiapkan jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan harga signifikan akibat terganggunya jalur distribusi internasional tersebut.

“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta, belum terjadi kenaikan,” tegas Pramono.

Sebelumnya, media lokal Tasnim melaporkan Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menutup jalur pengiriman minyak dan gas di Selat Hormuz. Keputusan pemblokiran rute vital ini merupakan respons atas eskalasi serangan brutal Amerika Serikat bersama Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2).

"IRGC sudah memperingatkan berbagai kapal karena suasana yang tak aman di sekitar selat akibat agresi militer AS dan Israel serta tanggapan Iran. Saat ini tidak aman untuk melewati selat tersebut," lapor Tasnim.

Akses utama distribusi energi dunia ini secara praktis berhenti beroperasi sepenuhnya. "Dengan penghentian lalu lintas kapal dan tanker melalui Selat Hormuz, selat tersebut pada dasarnya telah ditutup," tulis Tasnim.