Periskop.id - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan dunia. Suhu yang memecahkan rekor di berbagai wilayah memunculkan pertanyaan besar mengenai penyebab fenomena tersebut, termasuk sejauh mana kaitannya dengan perubahan iklim global.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. 

Menurutnya, fenomena tersebut terbentuk dari interaksi sejumlah mekanisme atmosfer yang bekerja secara bersamaan.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, di mana Eropa berada pada zona wilayah ini,” jelasnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (7/6).

Gelombang Rossby Jadi Salah Satu Pemicu

Sonni menerangkan, salah satu faktor penting di balik panas ekstrem Eropa adalah gelombang Rossby. Gelombang ini merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, arah angin, serta distribusi suhu di wilayah lintang menengah.

Gelombang Rossby memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer. Fenomena ini terbentuk ketika angin baratan melintasi pegunungan besar, seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Eropa berada di kawasan lintang menengah, sehingga wilayah tersebut dapat terdampak dinamika gelombang Rossby. Ketika gelombang tersebut berinteraksi dengan pemanasan daratan selama musim panas, gangguan suhu di atmosfer dapat semakin kuat dan memicu terjadinya gelombang panas.

Menurut Sonni, posisi matahari pada musim panas di belahan bumi utara membuat daratan mengalami pemanasan maksimum. Kondisi ini berbeda dengan lautan yang memiliki kapasitas menyimpan panas lebih besar.

Daratan lebih cepat memanas dibandingkan lautan karena kemampuannya menyimpan panas lebih rendah. Akibatnya, suhu udara di atas permukaan daratan meningkat lebih cepat. Pemanasan dalam skala benua kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa oleh gelombang Rossby.

“Saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat. Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” ujarnya.

Dengan mekanisme tersebut, gelombang panas di Eropa tidak dapat dipahami hanya sebagai kenaikan suhu harian. Fenomena ini merupakan hasil dari proses atmosfer yang luas, panjang, dan saling berkaitan.

Omega Block Membuat Udara Panas Terjebak Lebih Lama

Kondisi panas ekstrem di Eropa semakin diperparah oleh melemahnya aktivitas gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang lebih lambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di satu wilayah.

Situasi tersebut juga diperkuat oleh fenomena Omega Block. Dalam meteorologi, Omega Block merupakan pola tekanan tinggi yang dapat menjebak udara panas di suatu kawasan. Akibatnya, suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari atau bahkan lebih lama.

“Pada musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah. Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama,” ujarnya.

Pola seperti ini membuat wilayah yang terdampak tidak mudah mengalami pergantian massa udara. Udara panas tetap terkunci, sementara suhu permukaan terus meningkat. Inilah yang membuat gelombang panas dapat terasa lebih intens dan berlangsung lebih panjang.

Meningkatnya frekuensi gelombang panas kerap dikaitkan dengan perubahan iklim. Namun, Sonni mengingatkan bahwa kesimpulan tersebut tetap perlu dikaji secara ilmiah dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.

Menurutnya, perubahan iklim memang menjadi isu penting dalam pembahasan suhu ekstrem. Namun, untuk menilai satu kejadian panas ekstrem tertentu, analisis tidak boleh mengabaikan faktor alamiah yang juga berperan dalam sistem atmosfer.

“Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem,” katanya.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa gelombang panas perlu dilihat sebagai fenomena yang kompleks. Perubahan iklim global dapat memengaruhi kecenderungan suhu jangka panjang, tetapi kejadian spesifik tetap harus dianalisis berdasarkan kondisi atmosfer pada saat fenomena tersebut berlangsung.

Apakah Gelombang Panas Eropa Berkaitan dengan Indonesia?

Meski terjadi di Eropa, fenomena gelombang panas ekstrem tetap memiliki hubungan dengan sistem iklim global. Sonni menjelaskan, keterkaitan itu terjadi melalui mekanisme telekoneksi, yaitu hubungan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.

“Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis,” jelasnya.

Madden-Julian Oscillation atau MJO merupakan salah satu fenomena atmosfer tropis yang dapat memengaruhi pola cuaca dan iklim di berbagai wilayah. Melalui telekoneksi, dinamika atmosfer di satu kawasan dapat berkaitan dengan kondisi atmosfer di kawasan lain, meski tidak selalu memberikan dampak langsung.

Artinya, gelombang panas di Eropa tidak otomatis membuat Indonesia mengalami fenomena serupa. Namun, sistem atmosfer global tetap saling terhubung, sehingga perubahan pola sirkulasi di satu wilayah dapat menjadi bagian dari dinamika iklim yang lebih luas.

Sonni menjelaskan bahwa Indonesia juga berpeluang mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristik suhu ekstrem di Indonesia berbeda dengan gelombang panas di Eropa.

Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan serta efek urban heat island

Fenomena urban heat island umum terjadi di kawasan perkotaan, ketika area yang dipenuhi bangunan, jalan, beton, dan aspal menyerap serta menyimpan panas lebih banyak dibanding wilayah dengan tutupan vegetasi.

“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, kota-kota besar menjadi wilayah yang lebih rentan terhadap peningkatan suhu permukaan. Alih fungsi lahan, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan pembangunan kawasan padat dapat memperkuat rasa panas di perkotaan.

Sebagai langkah adaptasi, Sonni mendorong pemerintah dan masyarakat memperkuat upaya penghijauan. Langkah yang dapat dilakukan mencakup reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan.

Menurutnya, upaya tersebut penting untuk menekan peningkatan suhu permukaan. Selain itu, penghijauan juga dapat memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim dan risiko cuaca ekstrem.

“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” pungkasnya.