Periskop.id - Aksi jual aset di pasar keuangan Indonesia yang semakin cepat selama periode ketegangan perang Iran ternyata justru menciptakan peluang beli yang menarik bagi sebagian investor global. 

Situasi ini mendorong salah satu manajer investasi terkemuka asal Afrika Selatan, yang mengelola aset senilai US$29 miliar, untuk mulai masuk dan menanamkan modalnya ke pasar tanah air.

Kondisi pasar modal dalam negeri saat ini memang sedang mengalami tekanan yang sangat berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks acuan dengan kinerja terburuk di dunia pada 2026, turun lebih dari 35% dalam denominasi dolar AS di antara 92 indeks saham yang dilacak Bloomberg.

Gelombang aksi jual besar-besaran tersebut sebagian besar dipicu oleh adanya peringatan dari MSCI pada Januari lalu. Lembaga tersebut menyatakan bahwa Indonesia berpotensi diturunkan statusnya menjadi frontier market akibat adanya kekhawatiran terkait kelayakan investasi serta terbatasnya jumlah saham yang tersedia di pasar. 

Sejak peringatan itu keluar, otoritas pasar modal Indonesia sebenarnya telah memperkenalkan serangkaian reformasi yang dijadwalkan akan ditinjau kembali oleh MSCI pada bulan November mendatang.

Namun, sentimen pasar kembali terpukul pada Rabu (8/7), setelah lembaga S&P Dow Jones Indices memberi sinyal baru yang kurang menguntungkan. Lembaga ini memperingatkan bahwa Indonesia pada akhirnya bisa benar-benar kehilangan status sebagai pasar berkembang jika kekhawatiran terhadap pasar sahamnya terus berlanjut tanpa perbaikan signifikan. 

Akibat sentimen negatif tersebut, saham-saham domestik langsung turun 1,3% di tengah pelemahan yang lebih luas di pasar regional Asia.

Di sisi lain, para investor juga diguncang oleh berbagai kekhawatiran domestik yang kompleks. Isu-isu yang memicu kepanikan modal asing tersebut meliputi kebijakan fiskal negara, masalah tata kelola, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tingkat prediktabilitas kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Allan Gray Membidik Saham Indofood di Tengah Volatilitas

Meskipun mayoritas pelaku pasar cenderung menghindari risiko, pandangan berbeda justru datang dari manajer investasi asal Afrika Selatan. 

“Periode volatilitas tinggi dan ketidakpastian investor seperti ini menjadi lahan berburu yang sangat subur bagi investor sabar yang berbasis valuasi di pasar frontier,” tulis Rory Kutisker-Jacobson, manajer portofolio di Allan Gray, sebagaimana dikutip oleh Business Times dari Bloomberg pada Rabu (8/7).

Menurut penilaian Kutisker-Jacobson, pasar-pasar komoditas seperti Indonesia sering kali diabaikan atau kurang diteliti oleh investor global. Kondisi ini pada akhirnya justru menciptakan inefisiensi harga yang signifikan dan kerap kali menghadirkan peluang investasi yang sangat menarik pada waktu tertentu.

Atas dasar analisis tersebut, manajer aset yang berbasis di Cape Town itu resmi melakukan investasi pertamanya di Indonesia pada bulan Juni kemarin. 

Saham yang mereka bidik adalah PT Indofood Sukses Makmur, yang dikenal luas sebagai salah satu produsen mi instan terbesar di dunia, dan mereka kini sedang merencanakan investasi di sektor lainnya.

“Berdasarkan estimasi kami, Indofood Sukses Makmur diperdagangkan pada valuasi sedikit di atas lima kali laba, yang kami yakini merupakan harga yang baik untuk dibayar bagi bisnis yang dominan, menghasilkan arus kas, dan berorientasi pada konsumen,” papar Kutisker-Jacobson.

Kinerja Portofolio Global dan Dampak Redanya Konflik Minyak Dunia

Langkah berani yang diambil oleh manajemen ini didukung oleh catatan kinerja yang cukup solid. Allan Gray Frontier Markets Equity Fund, yang dikelola bersama oleh Kutisker-Jacobson, telah sukses mencatat imbal hasil hampir 9% sepanjang 2026 ini.

Selama kuartal tersebut berjalan, dana kelolaan ini juga mulai mengambil posisi atau berinvestasi dalam skala kecil di beberapa negara potensial lainnya seperti Meksiko, Polandia, dan Turki. 

Pada saat yang bersamaan, mereka memutuskan untuk mengurangi kepemilikan saham di perusahaan Seplat Energy asal Nigeria, yang padahal sempat mencatat kinerja sangat kuat pada 2026 berkat sentimen harga minyak yang tinggi.

Penurunan kepemilikan saham di sektor energi tersebut sejalan dengan dinamika komoditas global terkini. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan mulai melemah setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada bulan Juni kemarin. 

Momentum perdamaian tersebut berhasil meredakan kekhawatiran dunia atas gangguan pengiriman pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai jalur transit energi paling utama di dunia.