Periskop.id - Bicara soal perselingkuhan, yang terlintas di pikiran kita pasti hubungan terlarang secara fisik atau emosional. Namun, ada satu jenis kebohongan lagi yang dampaknya tidak kalah merusak bagi sebuah hubungan, yaitu financial infidelity atau perselingkuhan finansial. 

Istilah ini merujuk pada tindakan menyembunyikan informasi keuangan dari pasangan, mulai dari utang yang menumpuk, rekening rahasia, hingga aset yang tidak dilaporkan. Hubungan yang awalnya adem ayem bisa langsung retak seketika kalau pondasi kepercayaannya sudah dinodai oleh kebohongan semacam ini.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar isu belaka. Menurut sebuah studi yang dirilis oleh Bedbible Research Center pada tanggal 11 April 2024, sekitar 40% orang yang sedang menjalin hubungan serius mengaku pernah merahasiakan urusan keuangan dari pasangan mereka. 

Angka yang cukup mengejutkan ini menjadi bukti bahwa keterbukaan soal dompet masih menjadi tantangan besar bagi banyak pasangan saat ini.

Bentuk-Bentuk Kebohongan Uang yang Sering Terjadi

Dalam kehidupan sehari-hari, perselingkuhan finansial ini bisa muncul dalam berbagai bentuk yang kadang tidak kita sadari. 

Salah satu contoh yang paling sering ditemukan adalah kebiasaan belanja secara diam-diam tanpa sepengetahuan pasangan. Hal ini biasanya terjadi saat seseorang membeli barang mewah atau pengeluaran di luar anggaran yang sebenarnya sudah disepakati bersama.

Selain belanja sembunyi-sembunyi, studi tersebut juga mengidentifikasi bentuk umum lainnya, seperti membuka rekening bank atau kartu kredit rahasia. 

Ada pula tindakan menyembunyikan jumlah utang yang sebenarnya, serta merahasiakan aset berharga seperti tabungan, tanah, atau investasi. Bahkan, berbohong mengenai jumlah penghasilan atau gaji yang diterima setiap bulannya juga masuk dalam kategori perselingkuhan finansial ini.

Alasan di Balik Rahasia dan Dampak Buruknya bagi Hubungan

Ada berbagai macam alasan mengapa seseorang memilih untuk tidak jujur soal uang kepada pasangannya. Berdasarkan pengakuan para responden dalam studi tersebut, alasan yang paling sering muncul adalah rasa takut dihakimi atau dinilai buruk oleh pasangan. 

Selain itu, ada keinginan kuat untuk tetap memiliki kemandirian finansial, serta upaya menghindari konflik yang kerap kali meledak saat mulai membicarakan masalah uang. 

Di sisi lain, sebagian orang menggunakan kebohongan ini untuk menutupi kebiasaan buruk mereka, seperti kecanduan judi atau kebiasaan belanja yang sudah berlebihan.

Dampak yang ditimbulkan dari financial infidelity ini sangatlah serius bagi kelangsungan hubungan jangka panjang. 

Kerahasiaan ini secara perlahan akan merusak fondasi kepercayaan, menimbulkan tekanan finansial tambahan bagi keluarga, dan memicu stres emosional yang hebat karena adanya perasaan dikhianati. 

Sebagai gambaran nyata, data menunjukkan bahwa 19% orang dewasa di Amerika Serikat pernah menyembunyikan rekening atau kartu kredit dari pasangan mereka.

Cara Jitu Mengatasi Perselingkuhan Finansial

Agar hubungan kita tetap sehat dan terhindar dari badai perselingkuhan finansial, studi menyarankan beberapa langkah proaktif yang bisa kita lakukan bersama pasangan. Kunci utamanya berada pada komunikasi yang terbuka dan jujur sejak awal mengenai kondisi keuangan masing-masing. 

Kita dan pasangan harus meluangkan waktu secara rutin untuk membahas kondisi finansial saat ini, membuat tujuan keuangan bersama untuk masa depan, serta bekerja sama dengan kompak untuk mencapainya.

Namun, jika nasi sudah menjadi bubur dan masalah keuangan yang dihadapi terlanjur terlalu rumit, jangan ragu untuk mencari bantuan dari luar. 

Berkonsultasi dengan konselor pasangan atau konselor keuangan profesional bisa menjadi solusi yang sangat efektif untuk menyelamatkan hubungan sekaligus menata kembali masa depan finansial kita.