periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup stagnan pada hari ini, Selasa (17/3), di level Rp16.997 per dolar AS, setelah sempat menguat sekitar 25 poin di sesi sebelumnya. Pergerakan terbatas ini terjadi di tengah sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian, terutama menjelang periode libur panjang hingga 24 Maret.
Pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Ibrahim Assuabi, menilai pergerakan rupiah ke depan masih berpotensi fluktuatif. Salah satu faktor utama yang menahan penguatan rupiah adalah gangguan distribusi energi global akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
"ni masih menjadi perhatian utama saat terjadi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Memasuki minggu ketiga yang sampai saat ini belum ada satu kesepakatan pun tenjata-tenjata antara ketiga negara tersebut," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (17/3).
Dia menjelaskan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memasuki minggu ketiga tanpa kesepakatan damai, turut mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent tercatat naik sekitar 33%, sementara crude oil meningkat hingga 37% sejak sebelum konflik berlangsung.
Kondisi ini semakin diperparah dengan belum pulihnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, meski ada wacana pelonggaran bagi kapal non-afiliasi. Situasi tersebut berdampak langsung pada pasokan energi global dan memicu kenaikan harga yang berimbas pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Nah di sisi lain pun juga pemerintahan Iran mengatakan bahwa diperbolehkan silakan kapal-kapal yang tidak ada hubungannya dengan Amerika Israel untuk bisa melewati Selat Hormuz," tuturnya.
Di sisi eksternal, kata Ibrahim, pelaku pasar juga menanti hasil pertemuan bank sentral AS atau Federal Reserve yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Arah kebijakan ini dinilai penting sebagai indikator kondisi ekonomi global di tengah lonjakan harga energi.
Sementara dari dalam negeri, pemerintah berupaya menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% dari PDB melalui efisiensi belanja. Di saat yang sama, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, dengan suku bunga deposit facility 3,75% dan lending facility.
"Walaupun sebelum-sebelumnya ya Menteri Keuangan ya kemudian Menteri Perekonomian mengatakan bahwa kemungkinan besar akan menjadi depisit anggaran di atas 3% bahkan di atas 4% tetapi rupanya pemerintah ya mengkaji ulang bagaimana cara depisit anggaran di bawah 3% dengan cara mengurangi beban-beban anggaran biaya-biaya yang tidak perlu dilakukan, salah satunya adalah MBG," terang dia.
Ibrahim memperkirakan, selama periode libur panjang hingga sepekan ke depan, rupiah masih akan bergerak fluktuatif. Bahkan, tidak menutup kemungkinan rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS apabila eskalasi konflik meningkat.
Lebih lanjut, untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar, termasuk melalui transaksi non-deliverable forward (NDF). Pada pembukaan perdagangan setelah libur panjang, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS.
"Sehingga apa dalam perdagangan di tanggal 24 Maret ya setelah libur panjang kemungkinan besar rupiah ini akan diperdagangkan cukup ini ya cukup melebar ya di Rp16.990 sampai di Rp17.075," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar