periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada pekan ini, seiring penguatan dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dipicu oleh sejumlah faktor global, terutama meningkatnya tensi geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar AS diperkirakan akan bergerak dalam tren menguat. Ia menyebutkan bahwa dalam sepekan ke depan, indeks dolar berpotensi berada di kisaran tertentu.
“Indeks dolar dalam minggu depan kemungkinan besar akan diperdagangkan di rentang 99.300 sampai di 101.600. Ada kecenderungan dolar ini akan menguat,” kata Ibrahim, Senin (30/3).
Menurutnya, penguatan dolar menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah. Ia menilai kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung mengalami pelemahan.
“Rupiah kemungkinan besar ini akan terus mengalami pelemahan, dan kemungkinan besar akan menuju level 17.100,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama pergerakan pasar global saat ini. Ketegangan di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap harga energi dan aliran modal global.
“Tetap di sini adalah masalah geopolitik. Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih rame, apalagi tentang pembatasan transportasi di Selat Hormuz,” kata Ibrahim.
Selain itu, konflik yang melibatkan sejumlah negara turut memperburuk sentimen pasar. Serangan yang terjadi di berbagai wilayah disebut meningkatkan ketidakpastian global.
“Wilayah-wilayah Amerika yang ada di Timur Tengah seperti di Irak, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi itu pun juga dibombardir. Iran pun juga menyerang Israel,” ujarnya.
Ibrahim menambahkan bahwa kondisi tersebut turut berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi dinilai memperkuat dolar AS dan menekan mata uang lainnya.
“Sehingga ada kemungkinan besar untuk produksi minyak dan gas ini mengalami penurunan yang cukup signifikan,” kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Ia menilai investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS.
“Pelaku pasar condong tidak mengindahkan perang dagang karena konflik Timur Tengah begitu istimewa bagi para investor,” ujarnya.
Di sisi lain, perkembangan politik di Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan dolar. Kebijakan yang diambil pemerintah AS serta dinamika politik domestik menjadi perhatian pelaku pasar global.
“Kepercayaan masyarakat Amerika terhadap Donald Trump mengalami penurunan, karena kebijakan perang berdampak terhadap kenaikan harga energi,” kata Ibrahim.
Dengan berbagai faktor tersebut, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global.
“Ini yang membuat rupiah kemungkinan besar akan terus mengalami pelemahan,” ujarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar