Periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah tergelincir 0,21% ke level Rp17.973 per dolar AS pada pukul 10.51 WIB.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi menilai pelemahan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi domestik yang sebenarnya cukup solid. Ia menyoroti pertumbuhan kredit investasi yang kuat, mencapai 24,9%, serta suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang dipertahankan di 5,75% untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas rupiah.

"Namun, rupiah masih tertekan oleh defisit fiskal, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian tarif baru AS," ujar Prasetya dalam riset yang dipublikasikan, Jumat (24/7).

Prasetya menguraikan, pertumbuhan jangka pendek diperkirakan tetap ditopang kredit investasi, hilirisasi mineral, dan penguatan infrastruktur digital. Namun kenaikan harga minyak serta potensi tarif baru AS dinilai bisa mendorong tekanan inflasi, perdagangan, dan nilai tukar, sehingga membatasi ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Kejelasan regulasi di sejumlah sektor turut jadi perhatian. Prasetya menyebut, aturan soal cukai rokok, pekerja gig, hingga restrukturisasi sektor keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan menentukan tingkat kepercayaan dunia usaha dan investor terhadap perekonomian domestik.

Sentimen serupa juga disampaikan Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi. Menurutnya, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan rupiah belakangan ini.

Ibrahim memperkirakan rupiah bakal bergerak fluktuatif sepanjang hari, namun ditutup melemah pada rentang Rp17.930 hingga Rp17.980 per dolar AS.

Sebelum menyentuh Rp17.973, rupiah sempat melemah lebih dalam ke Rp17.982 per dolar AS pada pukul 10.06 WIB. Pelemahan ini melanjutkan tren sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,11% secara harian ke level Rp17.936 per dolar AS pada Kamis (23/7/2026).

Di tengah tekanan tersebut, investasi hilirisasi bauksit dan kerangka Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang baru disebut Prasetya turut mendukung pengembangan industri serta pendalaman pasar keuangan dalam negeri.

"Disiplin fiskal akan semakin penting ketika pemerintah menyeimbangkan insentif pajak, anggaran MBG, dan prioritas pembangunan lainnya," terang Prasetya.